Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 April 2012

PELANGI DI PELATARAN YOGYAKARTA (1)

“ Toples ini buat kamu”. kamu menyodorkan toples kaca bening  berbentuk bintang kehadapanku.
“Hmmm.. buat apa?” jawabku bingung dengan pemberianmu kali ini.
“Karena kamu suka pelangi, jadi aku isi toples ini penuh dengan pelangi. Biar setiap hari kamu bisa melihatnya”
Aku masih bingung dan terus melihat kedalam toples kosong yang sudah berada ditanganku.
“Tapi aku nggak lihat ada pelangi didalamnya”
“Sini toplesnya, kalau dibeginikan gimana? Coba kamu lihat sekarang kalau bagini keliatankan pelanginya?”. Kamu mengajarkan aku cara melihat pelangi dari toples pemberianmu ini.
“Hmm.. iya tapi bukankah biasanya kita bisa melihat pelangi bersama-sama”
“aku akan kuliah di kota lain, dan aku rasa ini semua terlalu sulit untuk kita” katamu kaku.

***
“Kamu mikirin dia lagi Sil?”
“Hmm,, oh nggak kok, aku cuma lagi ingin melihat pelangi saja”. Aku terus mengarahkan toples kaca kosong ditanganku ke sinar matahari dari balkon kantor.
“Apa melihat pelangi itu harus setiap hari ya Sil?” Aya kembali bersuara.
“bagiku pelangi itu seperti kebiasaan yang sulit untuk dirubah Ay”.
“Sampai kapan?”
“Apanya yang sampai kapan sich Ay?” aku berbicara tanpa melihat wajah sahabatku itu dan masih sibuk mencari posisi yang tepat hingga terlihat semburat warna-warna dari dinding toples berbentuk bintang ini.
Aya mendengus dan berlalu meninggalkan aku sendirian di balkon kantor. Aku Sila dan yang tadi itu Aya teman sekantorku sekaligus sahabat yang aku kenal di stasiun Balapan di awal aku menginjakkan kakiku di Yogyakarta ini 2 tahun lalu. Aya saat itu kebetulan berada di stasiun balapan karena sedang hunting-hunting Foto keperluan tulisannya dimajalah.  Sedangkan aku baru turun kereta datang dari semarang ke Yogyakarta. Aku yang hampir jatuh saat berdesak-desakkan turun dari kereta nyaris terjatuh, untung saja badan gembul Aya cukup menahanku. Saat itu jelas masih ku ingat wajah kagetnya yang sedang sibuk memotret dipintu keluar kereta tiba-tiba saja aku terdorong kehadapannya.

***
“Maaf mbak” Cuma kata itu yang kuucapkan, karena masih kesal terdorong dan nyaris jatuh.
“Iya ora opo-opo mbak, sini saya bantuin mbaknya”. “Dari mana mau kemana mbak?”
“Dari semarang mauu…hmm.. aku juga bingung mau kemana pastinya mbak.”
“Punya keluarga dijogja mbak?”
Aku menggeleng pasti.
“Lah, piye toh mbak. Namaku Cahaya tapi orang-orang lebih sering panggil aku Aya mbak”
“Aku Sila, sebenarnya sich aku ke jogja mau kerja mbak Aya. Aku ngelamar pekerjaan disalah satu majalah di jogja ini mbak. sekarang aku kejogja karena mau tes wawancaranya”.
“Mbak Sila panggil aku Aya aja mbak, ndak usah pake  mbak. kalu boleh tau majalah apa ya mbak?”
Seperti itulah pertemuanku dengan Aya yang kebetulan sekali kami bekerja di majalah yang sama. Tes wawancaraku berjalan dengan lancar dan aku langsung diterima dibagian redaksi. Sejak saat itu kami menjadi dekat. Dia pun tidak segan membantuku mencari tempat kostan, dari jalan kaliurang UGM hingga jalan Ringroad yang memutari kota Yogya dekat UPN aku dan Aya datangi. Karena biasanya disekitaran kampus seperti ini tentu kost-kostan banyak ditemukan. Aya yang kelahiran jogja tentu sangat hapal daerah sekitar sini, apalagi daerah sekitar UGM tempat dia dulu menyelesaikan S1 sastranya.
Pencarian tempat tinggalku saat itu aku anggap sebagai hiburan sesaat dengan guide gratis sebelum hari-hariku dipenuhi dengan rutinitas kantor baruku. Hingga akhirnya aku menemukan kost-kostan dengan harga miring yang pas di kantong. Satu ruangan yang dilengkapi tempat tidur, lemari, dan meja kecil, tentunya dengan kamar mandi yang super kecil juga. Disinilah aku memulai di Yogyakarta.
***
Jam makan siang sebentar lagi akan berakhir. Tapi aku masih enggan untuk beranjak dari sini. Panas terik tak segan-segannya menembus jilbab hijau tosca yang aku pakai hari ini.
“Sil, kamu dipanggil pak Dude tuh”. Kepala Aya menyembul dari pintu tangga bawah.
“Aku di panggil pak Dude? Ada apa ya Ay?”
“Udah, temui saja dulu. Lah aku ya mana tau Sil”
Aku mengikuti Aya turun, sebungkus chitato masih erat dipegangnya sambil sesekali mengunyah satupersatu isinya. Nafasnya terdengar terengah-engah setelah menuruni tangga dari balkon. Dia berbelok keruang redaksi, sedangkan aku terus menuruni tangga ke lantai bawah menuju ruang Pak Dude di sudut sebelah kanan.
***
Matahari hampir menenggelamkan dirinya. Dijendela masih tersisa air yang menempel karena hujan yang tiba-tiba turun ketika Ba’da Ashar tadi. Kini hanya secercah langit merah kegelapan yang tersisa, terlihat jelas dari lantai tempat dimana aku masih berkutat menulis beberapa tulisan yang akan dimuat untuk akhir bulan ini. Sesuai perintah Pak Dude tadi, semuanya harus selesai diminggu ketiga bulan ini  sebelum diserahkan kepadanya. Aya yang dari tadi sibuk didepan laptopnya kini terlihat lebih gelisah. Sedangkan beberapa senior-senior yang lain masih terus berkonsentrasi dengan pekerjaan mereka.
“Sil, Sila” Aya setengah berbisik.
“hmm..”
“Kamu lapar ndak?”
“Iya laper, kenapa?”
“Turun dulu yuuk, kita makan bakso mang Kasep”
Aku melirik arlogi ditanganku yang menunjukkan pukul 17.42.
“hmm.. sebentar lagi kan azan magrib Ay, gimana kalau kita sholat dulu baru turun makan baksonya ya”. Jawabku meyakinkan Aya sahabatku.
Wanita berbadan gembul itu terlihat tidak terlalu kecewa dengan alasanku menunda makan kami.
***
Kami baru saja keluar dari mushola kantor, kembali ke ruang kerja. Bermodalkan dompet serta kamera SLR sebagai inventaris dari kantor. Yah, mana tahu saja ada objek yang bisa ku dokumentasikan. Dari pintu kantor terlihat hujan tadi menyisakan gerimis yang lebih suka ku katakan ini adalah gerimis romantis. Aya berjalan didepan mendahului ku dengan payung biru kesayangannya. Tentu saja kami tidak bisa berbagi payung jika tidak ingin kebasahan sebelum sampai diwarung mang Kasep diujung jalan.
Benar saja sepertinya hujan menambah selera makan Aya, dihadapnya kini sudah ketiga kalinya ia meminta mang Kasep mengisi ulang bakso lengkap dengan sambal extra banyak.
Warung kecil ini hanya dilengkapi 2 meja panjang yang masing-masing diatasnya dilengkapi sekeranjang kerupuk dengan bermacam-macam jenis kerupuk. Aku menghisap sedotan terakhir teh botol sosro yang aku pesan tadi. Sedangkan Aya masih menikmati baksonya dengan lahap.
“Sil, kerjaanmu sudah selesai ndak.” Suaranya lebih persis seperti orang bergumam akibat sebuah bakso yang dikunyahnya.
“Ada beberapa lagi yang belum selesai,” aku berhenti sejenak mendengar lagu yang dibawakan 2 pengamen tetap diwarung mang Kasep yang tadi direquest seorang wanita disudut meja.
i heard, that your settled down
that you, found a girl and your married now
i heard that your dreams came true.
guess she gave you things, i didn't give to you

“hmm,, kolom puisi pembaca belum terisi Ay.” Aku melanjutkan.
“Kamu sudah cek e-mail belum, mana tahu ada kiriman baru dari pembaca.”
“hmm…” aku kembali mendengarkan penggalan lagu Someone Like you milik adele yang cukup enak dinyanyikan pengamen tadi. Salah satu lagu yang aku suka. Sesekali memotret mereka dengan kamera yang tadi ku bawa.
nevermind, i'll find someone like you
i wish nothing but the best, for you too
don't forget me, i beg, i remember you said
"sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead

***
Aku sudah kembali kekantor, dan mulai berkutat lagi didepan computer. Sedangkan Aya yang mejanya tepat didepanku tak kenyang-kenyangnya menikmati pisang goreng yang tadi sempat-sempatnya ia beli sepulang dari warung Mang Kasep. Sesekali tangannya menggeser mouse dan mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu.
Satu-persatu email kiriman pembaca sudah aku buka. Sebagian besar berisi permintaan ini dan itu dari pembaca. Beberapa lagi puisi-puisi. Mataku berhenti disalah satu kiriman dengan nama subjek yang dulu tak asing bagiku. Ah, mungkin nama yang sama. Didunia seluas ini mana mungkin tak ada orang yang bernama sama. Sekian detik aku ragu membuka email itu. Email berisi puisi. Puisi yang membuat aku terkesan. Makna yang aku mengerti. Tapi tak cukup aku pahami.
Pelangi pernah menyatukan cinta
Sebongkah pelangi kutitipkan untuknya
Sekejap tak ada pelangi diantara cinta
Terhalang hujan yang penuh asa
Sekian menit aku mengaguminya
Berharap hujan segera sirna
Sekian menit aku mencerca
Menatap pelangi tak kunjung senja
Ingin rasanya aku berlari menembus hujan
aku berperang menantang hujan
Membentak untuk berhenti
Berharap hanya untuk saat ini
Aku hanya terpaku
Terbungkam oleh suara hujan yang menggebu
Hanya menunggu waktu
Berharap ada kata satu
siapa si pengirim puisi ini ?? apakah nama yang sama dan orang yang kukenal??

Minggu, 24 April 2011

Pacar Pertama

"Aku ragu menceritakan ini ke kamu Bel, terlalu konyol".
"Ceritakan saja Va, aku akan jadi pendengar yang baik". Aku tersenyum meyakinkan Alva.


*
Kapan kalian pertama jatuh cinta?
Kapan pertama kali kalian pacaran?
Wow, kalau menjawab pertanyaan kedua itu, aku menjadi sedikit malu. Banyak orang mungkin akan menertawakan ku. Tapi tak apa, meski mungkin aku kalah dengan anak jaman sekarang yang sudah pacaran sejak smp.

Pacar pertama. Setiap mendengar dua kata itu, aku yakin kalian akan berpikir mundur ke masa pertama kali kalian pacaran. Menyenangkan bukan, membayangkan bagaimana polosnya wajah kalian dengan bumbu malu-malu kucing. Hahaha,, begitu juga aku. Tapi sayang pacaran buat kali pertama ku tidak berjalan mulus. Yah.

Sampai saat ini aku pun merasa tolol memberikan alasan konyol itu saat mengatakan PUTUS. Alasan yg sebenarnya kubuat-buat. Alasan agar dia membenci ku.

Yang pasti alasan ku itu mulus membuat ku putus dengannya.

Ah, seharusnya saat itu aku lebih jujur. Aku sayang dia. Atau bisa dibilang masa dimana sayang ku untuknya semakin tumbuh.
Tapi aku melupakan semua rasa itu. Ketika aku tau ada orang lain yang menyayanginya lebih dari aku, bahkan sebelum aku bersamanya. Orang yg sangat ku kenal.


Seketika itu juga ada rasa takut untuk menyakiti dia dan dia. Bagaikan makan buah simalakama, aku bimbang. Rasa bersalah karena merebut orang yg telah lama dia sayangi.

Mungkin kalau aku berpisah dengan dia, mereka bisa bersama.

Ya, itu lah pemikiran dangkal ku saat itu. Membuat aku semakin kuat mengakhiri hubungan aku dan dia. Pemikiran yg menimbulan alasan putus terkonyol yg pernah ku lakukan.

Aku ingat sore itu, jantung ku begitu cepat berdetak, ada dia dihadapanku dengan wajah bingungnya.

"Katanya ada yg mau kamu katakan?" terdengar suaranya yg terkesan sangat lelah.
"Hmm,,"
"Apa?"
"Aku bingung harus mulai dari mana."
"Mulailah dari mana pun yang kamu mau."
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu".
"Maaf buat apa?".
"Makanya dengerin aku dulu". aku merengut kesal.
"Hehehe, iya iya maaf". Tawa kecilnya cukup membuat suasana saat itu mencair.
"Hmm, aku rasa hubungan kita sampai disini aja ya, kita gak cocok, karna aku...."
"Hah?", dia begitu terkejut.
"Salah aku apa? Karna apa??"
"Kamu gak pernah salah, yg salah itu aku".
"Tapi kenapa?? Karna orang lain yg kamu suka?".

Aku berjalan meninggalkannya. Aku ingin sekali berteriak mengatakan "BUKAN KARENA INI DAN ITU, INI HANYA ALASAN KU SAJA". Tapi itu tak mungkin, rencana ku tak mungkin kugagalkan sendiri.

Ini semua karna dia, dia yg menyayangimu lebih dari aku. Aku tak ingin berkata jujur, karna aku takut kau tidak membiarkanku pergi. Aku takut saat itu aku menangis dihadapanmu. Aku pecundang, dan terlalu pengecut untuk bertahan. Pengecut untuk mengaku aku menangis, aku sakit, begitu sakit.

Ketika terpaksa merelakan orang yg kita sayangi untuk orang lain. Dan aku yakin suatu saat kamu akan mengerti aku.
*

"jadi ceritanya lo berkorban?"
"hmm, entah la Bel, aku tak tau apa itu bisa dikatakan pengorbanan".
"Lo putus, apa kemudian mereka bersama?"
"Tidak".
"Lalu?"
"Aku dia dan dia menjalani hidup kami masing-masing".
"Tolol, pengorbanan yg sia-sia. Apa sampai saat ini dia belum tau alasanmu sebenarnya?"
"Entahlah, aku tak pernah memberitahunya. Tak ada gunanya juga. Itu hanya masa lalu".
"Masa lalu untuk pedoman masa depan".
"Iya, kamu benar Bel. Banyak hal juga yang saat ini membuat aku mengerti apa itu hakikat cinta sebenarnya".

***
Aku meneguk air mineral didepanku. Alva baru saja mengakhiri cerita pacar pertamanya. Waktu makan siang kami sudah hampir habis. Kantin ini mulai sepi. Kantin kantor adalah tempat makan yang tepat dikala dompet menipis diakhir bulan seperti ini. Aku beranjak pergi sembari mengingat pacar pertama ku^^

jambi, 24 april 2011
23.15 WIB




Minggu, 17 April 2011

MESSAGE? NOW? WHY?

     Oh... Sungguh penat rasanya otak ini untuk sekedar merangkai kata-kata seperti biasanya. Jari-jari yang tak elaknya menari-nari diatas tuts laptop kini terdiam sunyi. Tak ada hentakkan yang biasanya setia seperti musik mengiringi liriknya.

     Laptop didepanku masih tetap menyala. Dan sudah setengah jam aplikasi word tetap tampak putih. Tak ada satu katapun yang tertulis. Jangankan satu kata, satu huruf bahkan satu titik pun tak nampak disana.

     Sejak 30 menit yang lalu aku mengetik beberapa kata, kemudian delete, mengetik lagi dan ku delete lagi, begitu seterusnya. Tak ada yang sesuai, atau bisa dibilang otakku tidak sesuai dengan keadaan ini.


     Dengan tangan kanan memegang mouse yang sibuk meng-klik entah apa yg di klik. Sedangkan tangan kiri masih menumpu dagu yang tak ingin beranjak dari tumpuannya.

     Aku hanya termenung menatap jauh ke layar putih didepanku. Tatapan yang tak berujung.

     Tidak, awalnya tidak begini. Hingga 30 menit yang lalu aku masih baik-baik saja. Masih lancar mengedit beberapa tulisan untuk diterbitkan diminggu depan. Dan masih tersenyum geli membaca cerpen gokil kiriman pembaca yang sudah selesai ku ketik.

     Tapi tidak saat ini. Tidak untuk menulis cerpen yang jadi bagian ku setiap minggunya. Entah karena aku tak punya ide dengan tema kali ini, atau karena pesan yang masuk keponsel ku setengah jam yang lalu itu. Pesan dari nomor yang tak ku kenal.

    Ya, semua itu sebelum 1 pesan masuk keponselku. Pesan singkat yg memutar balikkan ku ke masa itu.

    Masa dimana seseorang memberi perhatian penuhnya untuk ku.
    Masa dimana seseorang menjadi suporter setia disaat aku terpuruk.
    Dan masa yang membuat sampai saat ini tak ada satupun kata sayang di inbox ponsel milik ku.

    Terlalu miris memang. Tapi itu lah kenyataannya.

    Aku lebih suka berkutat dengan laptopku dan juga meja kerja yg penuh dengan tumpukan kertas yang tak akan pernah habis. Atau juga mengejar objek-objek cerpen ku diluar sana.


    Tapi hatiku tak bisa diam dan terus memberontak. Mengulang kata-kata itu. Temukan yang lebih baik dari dia. Temukan yang lebih baik dari dia. Temukan yang lebih baik dari dia.

Tapi tidak, tidak untuk saat ini.


      Aku membaca pesan itu, tak ada kata sayang tentunya. Tapi cukup membuat cuaca yang terik ini seketika mendatangkan hujan. Hujan bergemuruh yang siap menghantamku. Pesan yang diakhiri namanya.

      Pesan yang cukup stantar untuk orang yang sudah lama tak bertemu memang. Pesan dengan beberapa kata basa basi yang sudah ku hapal diluar kepala.


Ah sudah lah !
Ku abaikan pesan itu. Segan sekali untuk membalasnya.

     Pesan yang entah kenapa membuat hati ini miris. Aku lupa kapan dulu aku merasakan ini. Dan pasti sudah cukup lama, hingga aku pun lupa.
    Jam dinding menunjukkan pukul 3 sore. Ku pikir lebih baik aku mencari udara segar diluar sana sambil menunggu seruan-Nya sore ini.
    Aku mematikan laptop, memasukkan ke dalam tas yang akan kubawa. Dan segera beranjak dari tempatku menuju lift kelantai dasar.
    Ponsel ku berbunyi lagi. Tertera 1 pesan yang masuk. Pesan dari nomor yang sama. Nomor tidak ku kenal itu.

   Dengan kalimat yang cukup membuatku miris.


>>
Mabel, kamu apa kabar?
kenapa sms aku sebelumnya nggak kamu balas? Apa kamu masih marah dengan aku.
Oh, ayolah Mabel, itu sudah beberapa tahun yg lalu.
Aku ingin menjelaskan sesuatu. Aku ingin bertemu kamu. Karna aku masih sayang kamu.

Sender :
+6285664282220

received :
15:05:06
17-04-2011
>>

>>
to : +6285664282220

aku baik. dan aku harap kamu juga baik-baik aja.
aku sudah maafin kamu, tapi maaf aku tidak ingin bertemu denganmu.
Aku harap kamu mengerti. Aku bukan Mabel yg beberapa tahun lalu. Kenapa baru sekarang? Setelah beberapa tahun tak ada komunikasi diantara kita.
>>
ku tekan send

Aku mendengus lega, memberanikan diri mengetik kalimat-kalimat itu setelah berpikir berulang-ulang.

Didalam lift aku hanya bisa tersenyum geli mengingat kata-kata terakhir dari pesannya tadi.

Oh ayo lah, aku bukan wanita yang mudah terbuai oleh hakikat cinta yang kau salah artikan.


Jambi, 17 april 2011
00.15 WIB

Cici wuni