Hujan kali ini hujan yg berbeda. Tak hanya sejuk ditubuhku. Tetapi juga sejuk dihati ini. Membuat aku merindukan masa-masa itu. Aku kembali kekota ini dan berjalan menyusuri setapak yang 3 tahun lalu aku lewati.
Seperti saat itu, tirai hujan senantiasa menemani hariku. Teh hangat Pak Anang yg selalu ku sesap dikala hujan, semakin membuat ku merindukan masa-masa itu. Teh hangat tidak terlalu manis dengan sesendok gula yg begitu Pak Anang hapal.
Warung penuh kehangatan, meskipun saat itu musik hujan yg dingin menggema.
Semua tidak banyak berubah sejak aku meninggalkan kota ini. Yah, kota yg terpaksa kutinggalkan demi menggali ilmu sastra ku di negeri orang. Alhasil, memang benar kata-kata ku saat itu. Awal coretan yang berlatar belakang keisengan kini berakhir dengan UANG.
Dari tempat ku berdiri sekarang aku dapat melihat minimarket tempat aku bekerja dulu. Tempat dimana aku dan Lastri menghabiskan paruh waktu kami. Aku memasuki minimarket. Tampak manager minimarket dengan seragamnya, Lastri. Yaa, dia diangkat sebagai manager disini menggantikan bos ku dulu yg tak bisa hidup tanpa gossip. Lastri terperangah melihatku.
"Unii..Itu kamu?" dia langsung menghambur ke pelukanku.
"Kenapa gak nelpon aku sih, aku kan bisa jemput kamu."
"Loh kalau gitu namanya bukan surprise dong." elak ku.
"kamu!! tetap gak pernah berubah!"
"Loh aku kan UNI, kenapa harus berubah?"
"Ya ya ya, masih Uni yg realistis kan? Menganggap CINTA itu SEDERHANA tidak RIBET!!" ejek Lastri." ya toh?"
"hahaha." aku tertawa mendengar sindiran Lastri.
"Ikut aku yuuk!"
"Kemana?"
"Kewarung Pak Anang." jawabku sambil tersenyum.
"BerNOSTALGILA maksudmu? Hahaha." tawanya lepas seketika. "Tapi gak bisa sekarang Ni, kamu tau kan peraturan disini? Tapi aku janji akan menemuimu 1 jam lagi." pujuk Lastri sambil melirik arloji ditangannya.
"Huuh" aku mendengus kecewa.
"Ok, aku tunggu disana. Jam 5 kurang harus sudah disana!" jawabku sedikit memaksa.
"Iya aku janji!"
Ku peluk tubuh yg kurasa semakin gemuk. Pelukan terakhir sebelum aku pergi.
Aku berjalan meninggalkan minimarket, tentu tanpa melupakan kenanganku disana. Genangan air sisa hujan masih tampak jelas. Hujan yg kini berganti gerimis romantis seperti kataku dulu.
Langkahku kembali terhenti. Tepat dipekarangan mesjid yg dulu setiap harinya aku lalui. Tenang dan merindukan. Tempat dulu aku pernah berteduh. Tempat aku temukan sebentuk hati disajadah merah. Tempat ini masih begitu hangat, sehangat sambutan-Mu untukku. Dan sama seperti saat itu. Tak ada orang lain. Hanya kita berdua. Aku dan -Mu Ya Allah. Tak ada musik lain selain musik hujan-Mu dan lagu-Mu dihatiku. Aku akan mengetuk pintu ke tiga-Mu sebelum Aku meninggalkan rumah-Mu.
***
Jam ditanganku menunjukkan pukul setengah lima lewat. Aku bergegas untuk sampai ke warung pak Anang. Hujan sebentar lagi mungkin akan benar-benar berakhir. Aku tidak ingin melewatkan hujan tanpa teh hangat. Aku berlari-lari kecil melewati genangan-genangan air.
Payung hijau yg dari tadi kupakai ikut menari-nari dalam tirai hujan. Seakan berlomba dengan ojek payung yg berlarian mengejar pelanggan mereka.
Aku tinggal menyeberang trotoar ini untuk sampai kewarung pak Anang yg sudah didepan mata. Tak sabar rasanya merasakan kehangatan warung itu lagi. Teh hangat dan hujan, perpaduan yg kusuka.
Beberapa langkah lagi aku akan sampai kewarung pak Anang. Iya beberapa langkah lagi.
Aku mendengar seseorang meneriakan namaku. Aku berhenti dan menoleh kebelakang. Dia, dia yg meninggalkan aku si hujan karena si pelangi. Dia mengucapkan sesuatu. Tapi terdengar samar.
"......"
"MINGGIIIIIIR!!!"
Seketika tubuhku ditubruk benda keras, terpelanting, dan terhempas.
Aku menikmati hujan terakhir ku. Tak ada musik lain selain musik hujan-Mu dan lagu-Mu dihatiku. Aku hujan yg hilang ketika pelangi muncul. Dalam tirai hujan, aku menyimpan banyak hal.
*previous
(Sependar Pelangi dalam Hujan)
(Dia Pelangi & Aku Hujan)
(Seperti Hujan Saat itu)
(Sebentuk Hati di Sajadah Merah)
(Ojek Payung Hati dalam Tirai Hujan)
# ini part ke-6 dari buku yg dari tadi saya baca. Cerita seorang Uni yg begitu menyukai Hujan. Uni yang mati dipenghujung hujan ketika pelangi mulai terpendar.
Sampul buku yg berjudul "Coretan diatas kertas"
dihiasi puisi singkatnya
"kubuka catatan harianku
sekedar flash back belaka
terus kubolak balik lembar demi lembar buku ini
sambil sesekali ku tersenyum kecil membaca kesedihanku yg sekarang terkesan lucu
terus kelembar berikutnya
ada rasa sedih ketika kubaca kebahagiaan saat itu
apa isi buku ini?"
kini saya membaca kebagian akhir puisi disampul buku.
"dibuku ini kutulis tentang mereka
dibuku ini kutulis nama-nama itu
dibuku ini kutulis harapanku
dibuku ini kutulis cintaku
dibuku ini kutulis hidupku
mataku berhenti dibagian akhir buku ini
tak ada satu tintapun tergores disitu
aku sengaja mengosongkan lembar akhir ini
untuk menulis bagian hidupku yg mungkin saja terlupakan olehku."
cici wuni
Tampilkan postingan dengan label HUJAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUJAN. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 April 2011
Aku di penghujung Musik Hujan-Mu
Sabtu, 09 April 2011
Sependar Pelangi dalam Hujan
Dua gelas Teh hangat dan piring yang tadi berisi tahu goreng, kini hampir tandas olehku dan Lastri. Hujan tadi menyisakan genangan-genangan air dimana-mana. Semilir angin terus menyapa rambutku yg kubiarkan terurai.
Aku melirik seorang wanita dengan setelan rapi yg baru saja memasuki warung Pak Anang. Berhenti dikursi yg tak jauh dari aku dan Lastri duduk.
Aku dan Lastri sudah cukup lama disini setelah berjalan dari minimarket tempatku bekerja. Ini hari terakhirku bekerja disana.
"Ni, kamu bilang kamu ngeliat dia disini kan?" ucapan Lastri membuat aku berpaling dari wanita tadi.
"Iya Tri, tepat dari kursi yg kamu duduki itu" jawabku.
"Gak kamu kejar?"
"Kejar? Buat apa? Dia tidak menginginkan ku. Begitu juga aku yg tidak menginginkannya."
"Tapi aku melihat sesuatu yg beda dimatamu, setiap kamu cerita tentangnya."
"hmm...itu cuma perasaanmu saja Las" tukasku.
"Kamu jangan membohongi perasaanmu sendiri Ni, matamu tidak dapat berbohong" serang Lastri.
"Sudahlah Las, aku mengajakmu kesini bukan untuk membahas dia. Tapi untuk perayaan diterimanya lamaran pekerjaanku dan acara perpisahan kita. Lagi pula tak ada lagi yg harus ku harapkan darinya. Aku hanya Hujan yg hilang setelah pelangi muncul." jelasku panjang lebar.
"Maafin aku Ni, aku tidak bermaksud membuatmu kembali mengingat kenangan burukmu" ucap Lastri yg terdengar merasa bersalah.
"Aku nggak papa Las", "Aku benar-benar nggak papa" ulangku lagi meyakinkan Lastri.
Kali ini Lastri hanya mengangguk seraya mengangkat cangkir teh dan menyesap tehnya yg kurasa sudah dingin.
"Aku percaya kalau jodoh itu sudah diatur yg di Atas, mungkin itu cara Tuhan untuk mengatakan dia bukan yg terbaik untukku Las. Toh bukannya sebagian banyak orang mengatakan kalau patah hati itu salah satu cara menjadikan seseorang dewasa??" jelasku lagi.
"Hahaha, itu hanya mitos dalam cinta Ni, toh buktinya masih banyak orang yg patah hati dan patah hati lagi karena hal yg sama. Kalau mereka dewasa, mana mungkin akan melakukan kesalahan yg sama Ni?" ungkap Lastri tak kalah panjang lebar.
"hahaha... Kamu ada benarnya juga Las." aku mencoba tertawa, dan mengangkat cangkir tehku. Tenggorokanku mendadak tercekat karena celotohen yg panjang lebar dan tak jelas juntrungannya itu.
***
Kadang aku berpikir bahwa aku tidaklah seberuntung mereka yg bisa mempertahankan cinta mereka bertahun-tahun dan berakhir indah. Tapi aku cukup mensyukuri cinta yg pernah Allah titipkan untukku. Pelajaran yg tak sesingkat kisahnya. Aku begitu mencintai kisah sederhana ini.
***
"Ni, aku boleh tanya sesuatu?" Lastri kembali membuka pembicaraan.
"Apa?" tak kalah serius dengan wajahnya saat ini.
"Bagaimana kalau dia tiba-tiba menemuimu dan memintamu kembali besamanya"
"Aku akan tetap jadi hujan yg hilang ketika pelangi muncul. Aku sesederhana hujan. Dan wanita itu semenawan pelangi. Tak mungkin dia meninggalkan pelangi hanya untuk hujan." ucapku meyakinkan Lastri.
"Apa kamu masih mencintainya?"
Oh, pertanyaan yg tak aku inginkan.
"Tidak" jawabku mantap.
"Sisa cintaku lenyap ketika pelangi muncul. Hujan juga telah menghapus jejaknya dihatiku."
jawabku lebih mantap.
"Apa sesederhana itukah cintamu Ni."
"Loh, bukannya cinta itu memang sederhana? Hanya kadang kita sendiri yg membuat cinta itu ribet. Bergelayutan dihati dan otak.","Kita perempuan sudah saatnya berpikir realistis, CINTA itu SEDERHANA, tidak RIBET."
"Hahahaha karna kamu sederhana dan tidak suka yg ribet kan? Apa kau akan terus menjadi orang yg sesimple inikah?"
aku hanya mengangkat kedua bahuku dan kembali menyesap teh dari cangkir didepanku.
Dari meja tempatku dan Lastri duduk, aku dapat mendengar lagu berhenti berharap milik marcel dari mulut pengamen yg memang selalu ada diwarung pak Anang.
kini ku akui
hatiku tak bisa s'lalu miliki dirimu
pernah ku paksakan walau tak sejalan
meski ku tau kusalah
Dan ku coba melupakanmu
karna ku tau kau bukan milikku
Aku meneguk teh terakhir dari cangkir ditanganku. Seiring dengan dimainkan reff terakhir yg diiringi gitarnya - pengamen-
dan ku berhenti berharap
akan cintamu yg dulu ada dihati
dan ku coba tuk bertahan
walau berat
kini ku berhenti berharap
*previous (Dia Pelangi & Aku Hujan)
Dia Pelangi & Aku Hujan
Mendung yg telah muncul sejak pagi sekarang berakhir dengan hujan. Aku berdiri tegak memandang orang-orang lalu lalang dari dinding kaca etalase mini market tempatku bekerja. Mereka sibuk dengan payung masing-masing sambil berkejaran dengan hujan.
Sudah seminggu yg lalu kumelihatnya melintasi warung Pak Anang. Dan sudah seminggu juga aku tak mampir ke warung itu. Aku terlalu sibuk mempersiapkan lamaran pekerjaanku di salah satu majalah ternama dikota ini. Paling tidak aku bisa menyalurkan hobiku ditempat kerja baruku, meski hanya dibelakang kertas. Tak sia-sia juga tentunya aku belajar sastra selama 4 semester ini. Tulisan yg dulunya berlatar belakang keisengan semata. Yang sekarang mungkin saja berakhir dengan UANG.
hahaha, aku tidak munafik kawan. Aku bekerja memang untuk mencari uang.
Aku ingat saat tes wawancara kemarin.
"Nama kamu cukup singkat. Panggilannya siapa?" kata maneger majalah tempat ku melamar pekerjaan.
"Cukup panggil Uni saja Pak."
"Apa kamu orang Padang?" tanyanya bingung.
"Hah? Tidak pak, itu hanya nama. Mungkin karna saya lahir dibulan juni." sanggahku cepat.
"Baiklah Uni,kalau kamu diterima, bekerjalah dengan....!
***
"Mbak...mbak !!"
"Oh... Maaf mas." lamunanku terbuyar ketika seorang lelaki setengah baya ingin membayar belanjaannya.
"Iy saya perhatiin dari tadi mbaknya hanya ngelamun aja." ucapnya setelah ku mengambil barang belanjaanya untuk dihitung. Membuat aku tersipu malu. Dengan cepat aku mulai menghitung satu persatu belanjaannya.
"dua puluh tujuh ribu seratus mas."
"Ini mbak."dia menyodorkan uang pecahan lima puluhan. Yg segera kuambil, serta dengan memberi struk pembayaran dan uang kembaliannya.
Dia terburu-buru berlalu pergi melintasi pintu masuk minimarket.
"Uni..mas yg tadi itu cakep ya?" Lastri tiba-tiba muncul dari samping rak barang.
"Lelaki yg baru keluar itu?"tanyaku.
"Iya, yg tadi sempat mengobrol denganmu?"
"Iya lumayan."
"Lumayan gimana? Cakep banget tau."
"Yah, terserahmu la Tri. Eh iy tolong jagain bentar. Aku mau ketoilet."
"Yee, cepatan ya. Kerjaanku juga numpuk."
"Iya makanya kerjaanmu jangan liatin cowok truss !" aku bergegas ketoilet sebelum Lastri berceloteh lagi.
"Makasia Tri." ucapku pada Lastri yg baru saja mengembalikan uang kembalian kepada seorang pembeli.
"Njih Ni."
Aku kembali memandang keluar, hujan masih saja seperti tadi terdengar teratur yg semakin membuatku gelisah.
"Kamu kenapa gelisah banget sich Ni?" tanya Lastri padaku.
"Aku kepikiran panggilan penerimaan pekerjaanku Las." keluhku.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau mereka gak menghubungiku berarti aku gak keterima."
"Kamu pasti keterima Ni, sabar aja nunggunya."
"Iya Las, aku sedikit takut."
***
Mataku kembali melirik jalanan diluar yg terus terguyur hujan. Payung-payung yg merentang berkelebat dimataku. Aku menyukai hujan, Ehmm...sebenarnya bukan hujan tetapi gerimis. Iya seperti saat itu aku katakan. Gerimis romantis.
Pikiranku tiba-tiba kembali kesosoknya. Sosok laki-laki yg dulu aku cintai. Sosok laki-laki yg pernah aku ceritakan sebelumnya, tetapi terpotong saat pengamen kecil diwarung Pak Anang menghampiri mejaku.
Laki-laki yg berpisah dengan ku karena alasan kesibukan pekerjaannya. Laki-laki yg ternyata membohongiku. Yah, setelah beberapa hari percakapan terakhir kami, aku bertemu dia dengan seorang wanita.
Wanita yg ku tahu anak atasan dikantornya. Dan sejak saat itu semua semakin jelas.
Tak ada waktu untuk ku. Tapi ada waktu untuknya, wanita itu.
Dia pelangi dan aku hujan. Pelangi yg muncul setelah hujan. Pelangi yg indah dan menawan sementara hujan hanya memberi kesejukan dan kenyamanan bagi yg membutuhkan atau kadang tidak dibutuhkan. Pelangi yg selalu dinanti setelah hujan. Sedangkan hujan hilang dengan datangnya pelangi.
Pelangi yg tidak akan ada tanpa adanya hujan. Tapi kau dan kebanyakan orang tidak pernah sadar itu.
Sejak saat itu aku tau kau bukan orang yg ku kenal. Semua sisa cintaku lenyap bersama munculnya pelangi setelah hujan.
*previous ( Seperti Hujan saat Itu)
Selasa, 05 April 2011
Seperti Hujan Saat itu
Untuk kesekian kalinya kutulis diceritaku bahwa hujan mengguyur kotaku lagi. Dan untuk kesekian kalinya juga aku minum teh hangat diwarung pak Anang.
Warung kopi yg tentunya tak hanya menjual kopi seperti namanya. Warung kopi milik pak Anang dan ibu Yanti.
Eits, jangan kalian berpikir ini warung kopinya selebritis. Nama suami istri ini hanya kebetulan saja sama dengan pasangan selebritis yg telah bercerai. Toh Anang telah mengandeng Syahrini dan sekarang Ashanti sedangkan Yanti menggandeng Raul. Yah, berita yg sedang hangat-hangatnya dibicarakan disegala infotainment stasiun tv yg sering, atau bisa dibilang terpaksa kutonton di minimarket tempat kerjaku.
Karena apa?
Karena pemilik minimarket itu begitu mencintai gosip. Gosip apa saja tentunya. Upps, kali ini aku bukan ingin membicarakan Anang KD maupun bos ku.
Aku menyesap teh hangat yg baru saja dibuatkan pak Anang. Hujan yg tadi sempat membuat bajuku basah kini berangsur gerimis romantis. Aku memang lebih suka mengatakannya demikian biar terkesan penting dan menarik kawan.
hmm,, hujan tadi menyisakan rintik-rintik yg begitu indah dilihat. Seekor burung terbang dari pohon rindang disamping warung. Meliuk-liuk tak beraturan seperti burung yg baru belajar terbang. Benar dugaanku, belum beberapa menit terbang ia sudah mendarat darurat dipinggir trotoar. Seekor burung lagi langsung mendekatinya, kurasa itu ibunya.
Aku jadi teringat ibuku dikampung yg sudah hampir 2 tahun kutinggalkan demi menggapai cita-cita.
Lamunanku terbuyar, karena seorang laki-laki yg dulu begitu ku kenal melintasi warung pak Anang. Tapi sayang dia telah menyebrang dan aku terlambat untuk memastikannya.
Aku hapal gerak-gerik tubuhnya, Dia. Dia yg pernah ku katakan belum saatnya aku ceritakan. Dia yg dulu menemani hari-hariku. Dia yg semakin tak ada waktu untukku. Aku ingat percakapan terakhir kami.
"Kamu seharusnya ngertiin pekerjaanku Ni!?"
"Aku sudah berusaha ngertiin kamu mas, tapi gak selamanya aku menjadi seorang yg pengertian."
"........?" dia hanya diam. Aku pun diam.
Sekian menit kami saling diam, tenggelam bersama pikiran masing-masing. Sampai akhirnya aku bersuara.
"aku gak butuh satu harimu ataupun 1 jammu mas, tapi aku hanya ingin 1 menitmu untuk membalas sms ku, apa kamu gak sadar ka..."
"Maafin aku Ni, aku tau aku salah, tapi aku gak bisa pungkiri aku terlalu menikmati pekerjaanku, aku minta maaf." dia memotong perkataanku.
Sejak percakapan itu, tak ada lagi percakapan kami selanjutnya. Aku dan dia berpisah. Sejak 1 tahun itu juga aku tak pernah bertemu dengannya. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan bedua. Sejak saat itu pula tak ada lelaki lain dihati ini.
Eits, jangan kalian berpikir karna aku masih mencintainya. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menikmati pekerjaanku dan kuliahku juga. Serta menikmati teh hangat sendirian dikala hujan setiap aku menginginkannya. Tanpa harus menambah beban hati dan pikiranku yg saat ini saja sudah menumpuk.
Lamunanku terbuyar akan sosoknya, ketika pengamen kecil datang menghampiri ku, wajah lelaki kecil yg familiar setiap kudatang kewarung pak Anang.
Aku tersenyum untuk menyapanya.
Lantunan lirik lagu milik utopia mulai terdengar dari mulut pengamen itu. Dan aku menikmati kesendirianku dipenghujung hujan kali ini.
"Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yg mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap takkan berubah
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita yg mengalir s'perti air
..............
Aku bisa tersenyum sepanjang hari karna hujan pernah menahanmu disini
untuk ku....."
#previous (Sebentuk Hati di Sajadah Merah)
Warung kopi yg tentunya tak hanya menjual kopi seperti namanya. Warung kopi milik pak Anang dan ibu Yanti.
Eits, jangan kalian berpikir ini warung kopinya selebritis. Nama suami istri ini hanya kebetulan saja sama dengan pasangan selebritis yg telah bercerai. Toh Anang telah mengandeng Syahrini dan sekarang Ashanti sedangkan Yanti menggandeng Raul. Yah, berita yg sedang hangat-hangatnya dibicarakan disegala infotainment stasiun tv yg sering, atau bisa dibilang terpaksa kutonton di minimarket tempat kerjaku.
Karena apa?
Karena pemilik minimarket itu begitu mencintai gosip. Gosip apa saja tentunya. Upps, kali ini aku bukan ingin membicarakan Anang KD maupun bos ku.
Aku menyesap teh hangat yg baru saja dibuatkan pak Anang. Hujan yg tadi sempat membuat bajuku basah kini berangsur gerimis romantis. Aku memang lebih suka mengatakannya demikian biar terkesan penting dan menarik kawan.
hmm,, hujan tadi menyisakan rintik-rintik yg begitu indah dilihat. Seekor burung terbang dari pohon rindang disamping warung. Meliuk-liuk tak beraturan seperti burung yg baru belajar terbang. Benar dugaanku, belum beberapa menit terbang ia sudah mendarat darurat dipinggir trotoar. Seekor burung lagi langsung mendekatinya, kurasa itu ibunya.
Aku jadi teringat ibuku dikampung yg sudah hampir 2 tahun kutinggalkan demi menggapai cita-cita.
Lamunanku terbuyar, karena seorang laki-laki yg dulu begitu ku kenal melintasi warung pak Anang. Tapi sayang dia telah menyebrang dan aku terlambat untuk memastikannya.
Aku hapal gerak-gerik tubuhnya, Dia. Dia yg pernah ku katakan belum saatnya aku ceritakan. Dia yg dulu menemani hari-hariku. Dia yg semakin tak ada waktu untukku. Aku ingat percakapan terakhir kami.
"Kamu seharusnya ngertiin pekerjaanku Ni!?"
"Aku sudah berusaha ngertiin kamu mas, tapi gak selamanya aku menjadi seorang yg pengertian."
"........?" dia hanya diam. Aku pun diam.
Sekian menit kami saling diam, tenggelam bersama pikiran masing-masing. Sampai akhirnya aku bersuara.
"aku gak butuh satu harimu ataupun 1 jammu mas, tapi aku hanya ingin 1 menitmu untuk membalas sms ku, apa kamu gak sadar ka..."
"Maafin aku Ni, aku tau aku salah, tapi aku gak bisa pungkiri aku terlalu menikmati pekerjaanku, aku minta maaf." dia memotong perkataanku.
Sejak percakapan itu, tak ada lagi percakapan kami selanjutnya. Aku dan dia berpisah. Sejak 1 tahun itu juga aku tak pernah bertemu dengannya. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan bedua. Sejak saat itu pula tak ada lelaki lain dihati ini.
Eits, jangan kalian berpikir karna aku masih mencintainya. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menikmati pekerjaanku dan kuliahku juga. Serta menikmati teh hangat sendirian dikala hujan setiap aku menginginkannya. Tanpa harus menambah beban hati dan pikiranku yg saat ini saja sudah menumpuk.
Lamunanku terbuyar akan sosoknya, ketika pengamen kecil datang menghampiri ku, wajah lelaki kecil yg familiar setiap kudatang kewarung pak Anang.
Aku tersenyum untuk menyapanya.
Lantunan lirik lagu milik utopia mulai terdengar dari mulut pengamen itu. Dan aku menikmati kesendirianku dipenghujung hujan kali ini.
"Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yg mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap takkan berubah
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita yg mengalir s'perti air
..............
Aku bisa tersenyum sepanjang hari karna hujan pernah menahanmu disini
untuk ku....."
#previous (Sebentuk Hati di Sajadah Merah)
Sabtu, 02 April 2011
Es Kado
Hari ini hari minggu, seharusnya rezekiku mengalir juga seperti aliran senyum anak-anak yang menyukai hari ini. Tapi aku masih berteduh di pangkalan ojek yg sudah tak terpakai lagi. Tepatnya sejak 30 menit yang lalu ketika hujan tiba-tiba mengguyur pelan dan sekarang deras.
Kakiku kini dipenuhi percikan tanah dari hujan dan menambah begitu tak layaknya sandal jepit yg disanggah peniti dibagian bawahnya.
Aku menatap gerobak es didepanku, bagaimana jualanku laku dibeli orang kalau hujan masih saja bersenandung tanpa henti.
Apa yang harus ku katakan pada dinda yang sudah lama meminta tas baru mengingat tas lamanya memang sudah tak layak pakai, tas dengan anyaman tali rafia buatan ku. Oh, hatiku begitu sakit membayangkan rengekan dinda anak ku.
"pak, apa hari ini jualan bapak habis"
"tidak sayang, sisa sedikit".
"jadi belum bisa beliin dinda tas baru ya pak"
"iy, dinda yang sabar ya nak, kalau jualan bapak habis, bapak akan belikan dinda tas baru".
Itu lah alasan ku setiap dinda bertanya. Tapi aku bangga pada anakku satu-satunya itumeski umurnya yg baru menginjak usia 10 tahun, dia telah pintar memahami ekonomi kami, orangtuanya. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari saja aku sulit meski sudah berjualan dari pagi hingga senja merah tampak.
Inilah satu-satunya pekerjaan yang aku miliki. Menjadi penjual es kado. Es-es ini ku ambil dari agen es didekat rumahku. Pekerjaan yang cukup membuat dinda anakku senang. Tak jarang aku membawakan beberapa potong es untuknya. Es dengan rasa durian kesukaan dinda.
Mungkin juga aku lah satu-satunya orang yang akan tersenyum ketika orang-orang mencerca karena kepanasan. Tidak lain dan tidak bukan, karena hari yang cerah secara tidak langsung banyak yg akan membeli jualanku.
Tapi tidak kali ini, langkah ku terhenti dipangkalan ojek tempat aku berdiri sekarang. Belum ada 1 potong es pun terjual hari ini, apa yang harus ku katakan pada istri dan anak ku. Apa lauk sepotong ikan asin lagi yang bisa ku berikan pada mereka? Ah tidak.
Aku akan menunggu hingga hujan reda. Dan melanjutkan menjajakan es ini.
12.37
1 jam, 2 jam ,3 jam dan Alhamdulillah hujan mulai reda. Tujuan utama ku adalah komplek sebelah. Tak jarang anak-anak elit itu menyukai es jualan ku. Dan tak jarang juga mereka memborong es-es ku ini. Aku mengakui meski es ini jajanan kampung, tapi si pemilik agen es begitu menjaga kesehatan dan rasa.
12.53
Aku telah sampai ditaman komplek. Rumput masih tampak basah, tapi beberapa anak laki-laki ku lihat baru saja memulai bermain bola. Hentak kan lonceng es ditanganku semoga cukup menyadarkan anak-anak itu. Namun tak ada respon.
13.10
Aku berjalan lagi menyusuri aspal-aspal mulus ini, tidak seperti setapak ke rumah ku yg berlubang dan sempit.
Aku bersyukur untuk kesekian kalinya. Dugaan ku benar, baru beberapa rumah ku lewati, es ku sudah diborong seorang ibu yg akan mengadakan acara ulang tahun anaknya.
Apapun tujuan ibu itu jujur aku tak peduli. Aku ingin segera pulang dan mengajak dinda membeli tas barunya. Senyum khas anak ku sudah terbayang diotak ini. Senyum dengan lesung pipi kecil. Dia akan mendapatkan tas barunya. Oh semua letih ku hari ini sudah hilang memikirkan begitu senangnya dinda.
13.48
Gerobak yg sudah kosong ini ku ajak berlari menyusuri setapak becek dan berlubang menuju rumah ku. Ada yg aneh. Didepan rumah ku penuh kerumunan orang. Ada apa? Dinda? Istriku?
Aku menerobos kerumunan itu. Senyum bahagiaku hilang seketika menatap sisa-sisa puing rumahku yang habis dilahap api. Rumah, istri dan juga dinda, anak ku.
'Jika saja jualan ku lebih cepat laku dan ku cepat pulang'.
Jambi, 2 April 2011
18.00 WIB
Rabu, 09 Maret 2011
Ojek Payung Hati dalam Tirai Hujan
“Pak teh angetnya satu yo”
“Iya neng, sedikit gula seperti biasanya toh?”
“Hehehe, enje pak”
Hmmm… hujan lagi. Aku terpaksa berteduh diwarung pak Anang. Warung kopi langgananku. Hey, jangan salah karena namanya warung kopi lantas yang dijual hanya kopi. Teh hangat kesukaanku tentu juga tersedia disini.
Sejak aku bekerja dimini market yang tak jauh dari warung pak Anang ini, aku sering ssekali mampir. Sekedar duduk melepas penat atau memesan teh hangat dikala hujanseperti saat ini. Tak jarang aku mengobrol juga dengan pak Anang atau istriya bu Yanti.
Aku mengingat orang tuaku dikampung setiap melihat mereka. Teringat peluhnya mereka untuk membiayai hidup dan sekolah aku dan adik-adikku. Untuk itulah aku bekerja paruh waktu. Mengirit setiap hari, menyisihkan untuk kiriman kekampung.
“Neng, ngelamunin opo, pacar ya? Ini tehnya”
“Hhehe, bapak ada-ada saja. Yo ndak la pak. Ora punyo pacar aku pak”
“Yo wes, bapak tinggal dulu yo. Jangan ngelamun lagi”
“Enje pak”
Kesesap teh hangat yang kupesan tadi, terasa hangat ditenggorokan.
“…………..makasih pak” terdengar suara girang seorang anak lelaki yang diberi uang 5 ribuan dari lelaki setengah baya yang baru saja menyewa payungnya.
Memang dari tadi aku sudah memperhatikannya dari warung pak Anang, ia sibuk berlarian mengejar orang-orang yang lalu lalang ditirai hujan, yang sejak tadi mengguyur deras. Membawa sebuah payung, dan rela berbasah-basahan demi uang yang tak sebanding dengan kesehatannya.
“Buuu, payungnya….”
“Berapa?” Tanya ibu itu.
“Biasa bu 3 ribu saja”
“Gak bisa kurang ya?”
“Gak buu, taa………..”
Percakapan mereka beriringan dengan hujan yang semakin deras. Samar-samar dapat kudengar percakapan bocah laki-laki tadi dengan seorang ibu yang tadi juga minum the di warung pak Anang. Dasar ibu-ibu untung rugi begitu diperhitungkan. Entah bagaimana nego mereka tadi, yang ku tau kini mereka telah melewati derasnya hujan.
Aku kembali menyesap teh yang tinggal setengah dan masih terasa hangat. Tapi tetap tak mampu menghangatkan hatiku ketika mengingat sosoknya.
Sejak kapan aku lupa, yang pasti aku sangat menyukai hujan. Apalagi aku mengingat tirai hujan itu telah banyak menemani hari-hariku disini, dikota ini melupakan kenangannya. Aku yakin mereka ojek-ojek payung juga sangat menyukai hujan sama halnya denganku.
“banyak hal yang tersimpan dibalik tirai hujan”
(*dari status fb, banyak yang gak bisa pulang karna hujan lagi mengguyur jambi ^^)
(Jambi, 9 maret 2011 – 22.00 WIB)
“Iya neng, sedikit gula seperti biasanya toh?”
“Hehehe, enje pak”
Hmmm… hujan lagi. Aku terpaksa berteduh diwarung pak Anang. Warung kopi langgananku. Hey, jangan salah karena namanya warung kopi lantas yang dijual hanya kopi. Teh hangat kesukaanku tentu juga tersedia disini.
Sejak aku bekerja dimini market yang tak jauh dari warung pak Anang ini, aku sering ssekali mampir. Sekedar duduk melepas penat atau memesan teh hangat dikala hujanseperti saat ini. Tak jarang aku mengobrol juga dengan pak Anang atau istriya bu Yanti.
Aku mengingat orang tuaku dikampung setiap melihat mereka. Teringat peluhnya mereka untuk membiayai hidup dan sekolah aku dan adik-adikku. Untuk itulah aku bekerja paruh waktu. Mengirit setiap hari, menyisihkan untuk kiriman kekampung.
“Neng, ngelamunin opo, pacar ya? Ini tehnya”
“Hhehe, bapak ada-ada saja. Yo ndak la pak. Ora punyo pacar aku pak”
“Yo wes, bapak tinggal dulu yo. Jangan ngelamun lagi”
“Enje pak”
Kesesap teh hangat yang kupesan tadi, terasa hangat ditenggorokan.
“…………..makasih pak” terdengar suara girang seorang anak lelaki yang diberi uang 5 ribuan dari lelaki setengah baya yang baru saja menyewa payungnya.
Memang dari tadi aku sudah memperhatikannya dari warung pak Anang, ia sibuk berlarian mengejar orang-orang yang lalu lalang ditirai hujan, yang sejak tadi mengguyur deras. Membawa sebuah payung, dan rela berbasah-basahan demi uang yang tak sebanding dengan kesehatannya.
“Buuu, payungnya….”
“Berapa?” Tanya ibu itu.
“Biasa bu 3 ribu saja”
“Gak bisa kurang ya?”
“Gak buu, taa………..”
Percakapan mereka beriringan dengan hujan yang semakin deras. Samar-samar dapat kudengar percakapan bocah laki-laki tadi dengan seorang ibu yang tadi juga minum the di warung pak Anang. Dasar ibu-ibu untung rugi begitu diperhitungkan. Entah bagaimana nego mereka tadi, yang ku tau kini mereka telah melewati derasnya hujan.
Aku kembali menyesap teh yang tinggal setengah dan masih terasa hangat. Tapi tetap tak mampu menghangatkan hatiku ketika mengingat sosoknya.
Sejak kapan aku lupa, yang pasti aku sangat menyukai hujan. Apalagi aku mengingat tirai hujan itu telah banyak menemani hari-hariku disini, dikota ini melupakan kenangannya. Aku yakin mereka ojek-ojek payung juga sangat menyukai hujan sama halnya denganku.
“banyak hal yang tersimpan dibalik tirai hujan”
(*dari status fb, banyak yang gak bisa pulang karna hujan lagi mengguyur jambi ^^)
(Jambi, 9 maret 2011 – 22.00 WIB)
Langganan:
Postingan (Atom)




