Surat kecil untuk Tuhan? Kalau saja aku bisa berpura-pura naif, aku ingin bertanya.
Apa pak pos tau alamat Tuhan?
Tapi tidak, aku tidak senaif itu.
Catatan ini aku tulis, aku yakin Tuhan akan membacanya tanpa repot ku tempel prangko lagi atau mencari tahu alamat Tuhan. Karena aku yakin bahwa Tuhan begitu menyayangi aku.
Terima kasih untuk 3 tahun yg Engkau berikan agar aku mengenal cinta selain cintaku pada-Mu.
Aku semakin banyak belajar dari mereka yg Engkau utus sebagai cobaan untuk menguji kecintaanku pada-Mu.
Cobaan itu memang berat, tapi Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya. Untuk kedua kalinya aku katakan karena Engkau begitu menyayangi ku :)
Dan mungkin sampai saat ini aku belum Engkau posisikan 'menjadi orang yg tepat' tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan Engkau posisikan menjadi orang yg tepat pada orang yg tepat juga untuk ku :)
karena apa?? Karena Engkau begitu menyayangi ku :)
Syukron Ya Allah :)
Tampilkan postingan dengan label life :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life :). Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 Desember 2011
catatan untuk-Nya
Minggu, 05 Juni 2011
my birthday
Pesta kejutan yang dibuat oleh teman-teman sekantorku termasuk Alfa sahabatku cukup membuat aku merasakan indahnya ulang tahunku kali ini. Ulang tahun yang lebih ku rasakan pada kesyukuran ku akan karier serta orang-orang yang ku sayangi. Namun tetap saja aku merasakan ada suatu yg kurang di ulang tahun ku.
Sudah 3 tahun belakangan ini tak ada ucapan spesial dari orang spesial dan tak ada pula buket bunga lili seperti tahun-tahun sebelumnya. Jujur aku merindukannya. Untunglah hari ini hari minggu, sisa pesta kejutan tadi malam nyaris membuat rumahku seperti kandang yang dipenuhi sampah dan sisa-sisa cream tart yang masih berlepotan dilantai.
Tepat jam 12 malam mereka mendobrak rumahku. Skenario mereka kunilai sangat berhasil. Adegan perampokan dimana beberapa dari mereka menjadi perampok lengkap dengan penutup wajah dan tentunya aku sebagai korban tak berdaya benar-benar ketakutan. Aku diikat dengan mata tertutup persis seperti difilm-film. Dan ketika penutup mataku dibuka kue tart kecil yg dihias dengan sangat elegant membuat muka ketakutanku sontak berubah lega. Ingin rasanya satu persatu dari mereka ku lempar dengan kue tart yang sekarang ada ditangan ku ini. Tapi untuk melakukan itu aku memikirkannya berulang-ulang. Bagaimana mungkin aku mengotori rumahku sendiri, lagi pula ini hari ulang tahunku. Aku berjanji hanya ingin tersenyum khusus hari ini. Tapi meski pertahananku kokoh untuk tidak melempari kue ini,, tangan-tangan itu sekejap membuat rumah ini berantakan dan aku pun berantakan.
Tak terasa umurku sudah tak muda lagi. Tentu tak muda lagi untuk tetap sendiri seperti ini. Tak muda lagi untuk sekedar bermain-main seperti halnya 3 tahun lalu.Senyum geli dari wajahku mengembang mengingat usiaku , usia dimana seorang wanita seharusnya sudah memikirkan seorang pendamping hidup. Tapi tidak dengan aku. Tak ada waktu untuk itu, atau bisa dibilang aku menyibukkan diri untuk tak ingat hal itu. Terlalu menyakitkan buatku membahas CINTA. Aku bukan seorang yg menyanjung cinta, karena aku sendiri tak mengerti makna cinta.
***
Satu pesan masuk keponselku. Tertera jelas nama alfa disana.
>>
Bel, hari ini acara kita apa? Lo kan ultah ,, makan-makan dong ya :Dingat uda tua, mending kita jalan-jalan. Mana tau ada pangeran kuda putih buat lo. Hahaha, becanda gw .Gak usah dibalas. Ntar gue kerumah lo.:)
Sender :
Alfa
+6285664050691
received :
09:10:08
05-06-2011
>>
>>to : Alfa(+6285664050691)
Sorry banget ya fa , buat hari ini gw lagi pengen sendirian aja. Kita makan-makannya besok aja ya, gw janji dech traktir lo makan bakso kesukaan lo sepuasnya :). Dan kalau soal pangeran berkuda putih gw yakin saat ini dia dalam perjalanan buat datang ke gw :)
>>
cici wuni
>> kado buat diri sendiri :)
berharap masih ada ulang tahun ini ditahun-tahun selanjutnya.
(cerita diatas hanya fiktif belaka, ntar malah dipikir beneran tua amat & gak laku-laku lagi :D )
Minggu, 09 Januari 2011
Aku (4)
Aku memasuki kelas ini. Hawa ruangan yg tidak dingin,gerah karena panas pagi yg menembus celah ventilasi ruangan ini. Sudah banyak temanku yg datang. Hmm, seperti biasa banyak hal yg mereka lakukan,bergosip atau sekedar bernarsis mania dengan kamera dari handphone mereka.
Buku, Pesta, dan Cinta !
3 simbol anak muda.
Hahahaha,,
"sihhiiiy yg rambut baru bla bla bla bla dan bla !! ". Salah satu temanku menggoda temanku lainnya yg datang dengan rambut panjangnya yg baru. Terdengar tawa-tawa lepas tanpa dosa milik mereka. Aku hanya memperhatikannya sebentar dengan tersenyum kecil dan segera kembali berkutat mengutak-atik handphoneku.
Ada rasa lucu ketika tingkah kami seperti anak kecil, aku senang berada disekitar mereka.
Sudah pukul 10.14 WIB tapi belum ada tanda-tanda dosenku yg mengajar mata kuliah PKIP menampakkan batang hidungnya. Aku lebih suka menyebut mata kuliah ini pertahanan ilmu hitam.
Kenapa? Entahlah !
Tak ada hubungannya dengan prof. Snape yg mengajarkan pertahanan ilmu hitam di film favoritku Harry Potter, aku hanya lebih suka menyebutnya seperti itu. Kalian tak perlu heran kawan.
:)
Sekejap kelas menjadi lebih tenang, dengan kehadiran dosenku yg baru menginjakkan kakinya sekitar 2 menit yg lalu. Tapi aku yakin ketenangan ini hanya sesaat,yg akan diganti dengan bisik-bisik kecil disetiap sudut kelas. Lemparan-lemparan kertas dari arah belakang yg kadang menimbulkan emosi. Atau bahkan wajah mengantuk dari teman-temanku akibat gameonline yg mereka mainkan sepanjang malam. Tawa- tawa geli dalam hati sering aku lontarkan dengan gelengan-gelengan kepala heranku.
Didepan duduk barisan lelaki yg selalu menepati kursi-kursi barisan paling depan itu. Apakah mereka benar-benar mengerti? Atau hanya mengikuti permainan ini saja. Tangan-tangan mereka setia menari menggerakan pena diatas kertas untuk setiap kata yg keluar dari mulut lelaki setengah baya didepan.
Aku,dia dan mereka.
Jambi, 9 januari 2011
13.20 WIB
Buku, Pesta, dan Cinta !
3 simbol anak muda.
Hahahaha,,
"sihhiiiy yg rambut baru bla bla bla bla dan bla !! ". Salah satu temanku menggoda temanku lainnya yg datang dengan rambut panjangnya yg baru. Terdengar tawa-tawa lepas tanpa dosa milik mereka. Aku hanya memperhatikannya sebentar dengan tersenyum kecil dan segera kembali berkutat mengutak-atik handphoneku.
Ada rasa lucu ketika tingkah kami seperti anak kecil, aku senang berada disekitar mereka.
Sudah pukul 10.14 WIB tapi belum ada tanda-tanda dosenku yg mengajar mata kuliah PKIP menampakkan batang hidungnya. Aku lebih suka menyebut mata kuliah ini pertahanan ilmu hitam.
Kenapa? Entahlah !
Tak ada hubungannya dengan prof. Snape yg mengajarkan pertahanan ilmu hitam di film favoritku Harry Potter, aku hanya lebih suka menyebutnya seperti itu. Kalian tak perlu heran kawan.
:)
Sekejap kelas menjadi lebih tenang, dengan kehadiran dosenku yg baru menginjakkan kakinya sekitar 2 menit yg lalu. Tapi aku yakin ketenangan ini hanya sesaat,yg akan diganti dengan bisik-bisik kecil disetiap sudut kelas. Lemparan-lemparan kertas dari arah belakang yg kadang menimbulkan emosi. Atau bahkan wajah mengantuk dari teman-temanku akibat gameonline yg mereka mainkan sepanjang malam. Tawa- tawa geli dalam hati sering aku lontarkan dengan gelengan-gelengan kepala heranku.
Didepan duduk barisan lelaki yg selalu menepati kursi-kursi barisan paling depan itu. Apakah mereka benar-benar mengerti? Atau hanya mengikuti permainan ini saja. Tangan-tangan mereka setia menari menggerakan pena diatas kertas untuk setiap kata yg keluar dari mulut lelaki setengah baya didepan.
Aku,dia dan mereka.
Jambi, 9 januari 2011
13.20 WIB
Sabtu, 08 Januari 2011
Aku (3)
Sudah pukul 10.06 wib tepat diponselku. Aku telah siap dan hanya menunggu kedatangan sahabatku yg setia menjemputku setiap harinya sebelum kekampus. Ku perhatikan orang-orang yg lalu lalang didepan rumahku. Sekilas aku dapat melihat beragam bentuk ekspresi yg terlihat dari wajah mereka.
Meskipun tembok besar dan pagar-pagar tinggi milik tetangga depan kadang membuatku jenuh,namun aku masih dapat merasakan kehangatan dari senyuman yg mereka lontarkan ketika berpapasan.
Sebuah motor memasuki pekarangan rumahku. Dengan senyum kecut miliknya aku tau itu winda,sahabatku. Entah kecut karena angin yg terus menemani perjalannya atau kecut karena apa ? Tak ada niat untuk menanyakannya.
Aku kembali kedalam rumah untuk mencium tangan mama dan berpamitan. Segera ku percepat langkahku agar tak semakin lama winda menunggu.
"Aku menuntut ilmu karena Allah". Niat dalam hatiku yg ku baca setiap kulangkahkan kaki kananku dari pintu rumah.
Senyuman kecil namun tetap manis ku berikan pada sahabatku ini sebagai ucapan terima kasih pagi ini.
"uda masuk y ?". Winda bertanya padaku.
"belum ada yg sms". Aku menjawab yg dibalas anggukan sebagai tanda mengerti darinya.
Segera dilajukan motornya dengan kecepatan yg konstan. Gelak tawa kami terus menemani aku dan dia sampai kekampus. Tak ada hari tanpa canda tawa dan kegilaan-kegilaan lainnya. Winda kukenal sekitar 16bulan yg lalu,semuanya berjalan begitu saja hingga saat ini.
Parkiran sudah cukup penuh dengan kendaraan yg tersusun cukup rapi. Kini aku dan dia tepat diparkiran kampus,sedikit merapikan diri dan segera berjalan menuju kelas. Bermacam orang yg kutemukan ditempat ini,bermacam sorot mata pula yg dapat kulihat dari pandangan mereka. Aku mulai terbiasa dengan tempat ini, tempat aku mengejar gelar sarjana kesehatan masyarakat ku.
Kini ada aku dan mereka ditempat ini.
Jambi, 8 januari 2011
09.09 wib
Meskipun tembok besar dan pagar-pagar tinggi milik tetangga depan kadang membuatku jenuh,namun aku masih dapat merasakan kehangatan dari senyuman yg mereka lontarkan ketika berpapasan.
Sebuah motor memasuki pekarangan rumahku. Dengan senyum kecut miliknya aku tau itu winda,sahabatku. Entah kecut karena angin yg terus menemani perjalannya atau kecut karena apa ? Tak ada niat untuk menanyakannya.
Aku kembali kedalam rumah untuk mencium tangan mama dan berpamitan. Segera ku percepat langkahku agar tak semakin lama winda menunggu.
"Aku menuntut ilmu karena Allah". Niat dalam hatiku yg ku baca setiap kulangkahkan kaki kananku dari pintu rumah.
Senyuman kecil namun tetap manis ku berikan pada sahabatku ini sebagai ucapan terima kasih pagi ini.
"uda masuk y ?". Winda bertanya padaku.
"belum ada yg sms". Aku menjawab yg dibalas anggukan sebagai tanda mengerti darinya.
Segera dilajukan motornya dengan kecepatan yg konstan. Gelak tawa kami terus menemani aku dan dia sampai kekampus. Tak ada hari tanpa canda tawa dan kegilaan-kegilaan lainnya. Winda kukenal sekitar 16bulan yg lalu,semuanya berjalan begitu saja hingga saat ini.
Parkiran sudah cukup penuh dengan kendaraan yg tersusun cukup rapi. Kini aku dan dia tepat diparkiran kampus,sedikit merapikan diri dan segera berjalan menuju kelas. Bermacam orang yg kutemukan ditempat ini,bermacam sorot mata pula yg dapat kulihat dari pandangan mereka. Aku mulai terbiasa dengan tempat ini, tempat aku mengejar gelar sarjana kesehatan masyarakat ku.
Kini ada aku dan mereka ditempat ini.
Jambi, 8 januari 2011
09.09 wib
Jumat, 07 Januari 2011
Aku (2)
Terdengar suara-suara dari arah dapur. Entah apa yg sedang mama lakukan disana, yg ku tau sarapan sudah mama sediakan dimeja makan sejak tadi pagi.
"Kaaak , sudah jam berapa,mandi lagi !".
Teriakan mama yg cukup keras dari dapur menyadarkanku. Tak terasa sudah pukul 09.27 tepat diponselku. Aku berdiri dan segera menuju kamar mandi dipojok belakang rumahku. Senandung kecil berulang-ulang aku lantunkan,salah satu rutinitasku dikamar mandi ini. Suara erangan dari cipi dan cipa yg sedang bergurau terdengar sesekali. Yaach, mereka kucing-kucing peliharaanku.
Dengan selembar handuk aku berjalan melewati 3 anak tangga dan belok kekanan pojok rumah untuk sampai dikamar. Tak banyak waktu yg kuhabiskan untuk berpakaian dan berdandan ala kadarnya.
Sosok perempuan dari pantulan cermin kini terlihat lebih dewasa dibandingkan 3 tahun lalu. Tak ada lagi seragam putih abu-abu serta tas sandang dipunggungnya. Aku tersenyum tipis memandangnya. Tapi ada guratan ketakutan dari senyum itu. Entah apa yg ditakutinya.
jalan hidupkah ?atau kematiankah ?aku tak tau.
Aku segera berlalu dari cermin itu.
Kini aku duduk dimeja bundar untuk menyantap nasi goreng buatan mama,dengan dilengkapi segelas teh hangat.
Aku merasakan kebahagian dari sepiring sarapanku pagi ini yg belum tentu dirasakan "mereka",yah mereka korban-korban kejamnya dunia yg berlatarbelakangi uang.
bagi "mereka"
tanpa uang takkan ada makanan
tanpa uang takkan ada pakaian
tanpa uang takkan ada pendidikan
tapi buat "kalian" yg gila hormat!
dengan uang kalian membuang makanan
dengan uang kalian bergaya bak raja dan ratu
dengan uang kalian membeli harga diri
grrrrgrrrrR
Getaran dari handphone menyadarkanku,satu pesan masuk ke ponselku. Cukup senyuman kecil saat aku membacanya. Kuketik beberapa kata dengan diakhiri senyuman lalu kutekan send.
Aku melanjutkan sarapan pagiku. Dan aku kini sadar bahwa pendidikan tidak hanya untuk berpikir dengan otak,tapi juga merasakan dengan hati.
Jambi,07 januari 2011
21.47wib
"Kaaak , sudah jam berapa,mandi lagi !".
Teriakan mama yg cukup keras dari dapur menyadarkanku. Tak terasa sudah pukul 09.27 tepat diponselku. Aku berdiri dan segera menuju kamar mandi dipojok belakang rumahku. Senandung kecil berulang-ulang aku lantunkan,salah satu rutinitasku dikamar mandi ini. Suara erangan dari cipi dan cipa yg sedang bergurau terdengar sesekali. Yaach, mereka kucing-kucing peliharaanku.
Dengan selembar handuk aku berjalan melewati 3 anak tangga dan belok kekanan pojok rumah untuk sampai dikamar. Tak banyak waktu yg kuhabiskan untuk berpakaian dan berdandan ala kadarnya.
Sosok perempuan dari pantulan cermin kini terlihat lebih dewasa dibandingkan 3 tahun lalu. Tak ada lagi seragam putih abu-abu serta tas sandang dipunggungnya. Aku tersenyum tipis memandangnya. Tapi ada guratan ketakutan dari senyum itu. Entah apa yg ditakutinya.
jalan hidupkah ?atau kematiankah ?aku tak tau.
Aku segera berlalu dari cermin itu.
Kini aku duduk dimeja bundar untuk menyantap nasi goreng buatan mama,dengan dilengkapi segelas teh hangat.
Aku merasakan kebahagian dari sepiring sarapanku pagi ini yg belum tentu dirasakan "mereka",yah mereka korban-korban kejamnya dunia yg berlatarbelakangi uang.
bagi "mereka"
tanpa uang takkan ada makanan
tanpa uang takkan ada pakaian
tanpa uang takkan ada pendidikan
tapi buat "kalian" yg gila hormat!
dengan uang kalian membuang makanan
dengan uang kalian bergaya bak raja dan ratu
dengan uang kalian membeli harga diri
grrrrgrrrrR
Getaran dari handphone menyadarkanku,satu pesan masuk ke ponselku. Cukup senyuman kecil saat aku membacanya. Kuketik beberapa kata dengan diakhiri senyuman lalu kutekan send.
Aku melanjutkan sarapan pagiku. Dan aku kini sadar bahwa pendidikan tidak hanya untuk berpikir dengan otak,tapi juga merasakan dengan hati.
Jambi,07 januari 2011
21.47wib
Kamis, 06 Januari 2011
Aku (1)
Bunyi keras dari sebelah kamarku membuatku terjaga.
MeeaowWWgrRRggh !!
Kucing itu lagi. Kuraba-raba bagian pinggir bantalku tempat biasanya aku letakkan handphoneku. Cukup lama aku mencarinya dengan terus memejamkan mata. Yeah ! Aku mendapatkannya dipojok tempat tidurku. Waktu menunjukkan pukul 06.34 wib,dengan 1 pesan masuk. Ku tahu pasti dia.
Grrrrgh!
MeawWW!
bruukKk!
Pertengkaran kucing itu masi saja terdengar. Entah apa yg ditabraknya hingga terdengar benturan keras. Aku terpaksa bangun untuk membuka jendela kamar.
Awww!
Entah apa yg terinjak oleh ku. Mataku begitu berat untuk dibuka. Cahaya dari jendela membuat pupilku mengecil. Yang kulihat hanya tembok tinggi milik tetangga sebelah. Tak ada rumput hijau dan kicauan burung seperti 5 tahun yg lalu ditanah kosong sebelah rumahku.
Hush hush hush !?
Ku keraskan suaraku untuk mengusir 2 kucing itu. Ku tarik perlahan udara pagi ini yg terasa segar hingga sampai keparu-paruku.
Kreekk..k..k
Pintu kamar ku terbuka. Aku tau itu pasti mama. Benar dugaanku,mama sudah berdiri dipintu kamarku.
"kuliah jam berapa kak?"mama membuka pembicaraan.
"jam 10 ma". ku jawab singkat.
"kamar kok kayak kapal pecah"mama berlalu dengan menutup pintu kamarku.
weww !
Aku tak heran dengan ucapan mama. Tanpa sadar sajadah kecil yg kugunakan subuh tadi masi tergeletak diubin kamarku. Kain putih yg menutup aurat sebagai teman kegundahanku pun kubiarkan begitu saja.
sebegitu lelahkah mataku hingga kubiarkan semuanya.
Aku mulai melipatnya satu persatu,serta merapikan boneka-boneka adikku yg menumpuk disudut kamarku. Belum lagi meja belajar yg cukup berantakan,serta pecahan pena yg tadi tak sengaja ku injak.
huufh...
Akhirnya,selesai juga.
Kuambil handphone untuk membalas pesan darinya tadi dan mengetik ucapan pagi untuknya. Kini kurebahkan tubuhku dengan pandangan menatap langit-langit kamarku. Beristirahat sebentar menjelang waktuku.
Jambi, 06-01-2011
MeeaowWWgrRRggh !!
Kucing itu lagi. Kuraba-raba bagian pinggir bantalku tempat biasanya aku letakkan handphoneku. Cukup lama aku mencarinya dengan terus memejamkan mata. Yeah ! Aku mendapatkannya dipojok tempat tidurku. Waktu menunjukkan pukul 06.34 wib,dengan 1 pesan masuk. Ku tahu pasti dia.
Grrrrgh!
MeawWW!
bruukKk!
Pertengkaran kucing itu masi saja terdengar. Entah apa yg ditabraknya hingga terdengar benturan keras. Aku terpaksa bangun untuk membuka jendela kamar.
Awww!
Entah apa yg terinjak oleh ku. Mataku begitu berat untuk dibuka. Cahaya dari jendela membuat pupilku mengecil. Yang kulihat hanya tembok tinggi milik tetangga sebelah. Tak ada rumput hijau dan kicauan burung seperti 5 tahun yg lalu ditanah kosong sebelah rumahku.
Hush hush hush !?
Ku keraskan suaraku untuk mengusir 2 kucing itu. Ku tarik perlahan udara pagi ini yg terasa segar hingga sampai keparu-paruku.
Kreekk..k..k
Pintu kamar ku terbuka. Aku tau itu pasti mama. Benar dugaanku,mama sudah berdiri dipintu kamarku.
"kuliah jam berapa kak?"mama membuka pembicaraan.
"jam 10 ma". ku jawab singkat.
"kamar kok kayak kapal pecah"mama berlalu dengan menutup pintu kamarku.
weww !
Aku tak heran dengan ucapan mama. Tanpa sadar sajadah kecil yg kugunakan subuh tadi masi tergeletak diubin kamarku. Kain putih yg menutup aurat sebagai teman kegundahanku pun kubiarkan begitu saja.
sebegitu lelahkah mataku hingga kubiarkan semuanya.
Aku mulai melipatnya satu persatu,serta merapikan boneka-boneka adikku yg menumpuk disudut kamarku. Belum lagi meja belajar yg cukup berantakan,serta pecahan pena yg tadi tak sengaja ku injak.
huufh...
Akhirnya,selesai juga.
Kuambil handphone untuk membalas pesan darinya tadi dan mengetik ucapan pagi untuknya. Kini kurebahkan tubuhku dengan pandangan menatap langit-langit kamarku. Beristirahat sebentar menjelang waktuku.
Jambi, 06-01-2011
Selasa, 04 Januari 2011
Aku dan Taman Kanak-kanak ku
ditempat ini
dia mulai menggenggam benda
berbentuk sebatang kayu dengan kalam ditengahnya
apa ini?
untuk apa ini?
pertanyaan itulah yg muncul ketika tangan ini menggenggamnya
pensil !
tidak sesederhana mengatakannya
tangan mungilnya terus mencari posisi yg tepat untuk menggenggam benda ini
garis demi garis mulai terbentuk
setiap hari terus digenggam untuk membentuk sebuah huruf yg gurunya bilang "buat perutnya kasih buntutnya"
itu "a"
a dan kawan - kawan t'lah dikuasai meski dengan ukuran yg tidak konstan sesuka hatinya
banyak waktu tiap hari dia luangkan hingga dia dapat menulis sebuah kalimat sederhana ini "ibu pergi kepasar"
sepanjang kertas kosong trus diulang kalimat itu
tanpa kata lelah bahkan tanpa peduli bentuk tulisan yg semakin tidak karuan
senyum polos terus muncul saat sebentuk bintang yg dibentuk bu guru diatas hasil kerja kerasnya
ditempat ini
tangan itu terus membentuk goresan-goresan tak berarah diatas selembar kertas kosong
diisi dengan warna-warna yg sekarang ku nilai begitu norak
merah yg tidak sesuai pada tempatnya
kuning yg tidak sesuai pada tempatnya
hijau yg tidak sesuai pada tempatnya
begitu pula biru yg terus tangan ini gerakan sesuka hati tanpa melihat dimana tempat nya
tanpa sadar warna terang tetap mendominasi
tak ada kata lelah sebelum putihnya kertas berubah warna menjadi terang
senyum simpul kembali muncul dari wajah perempuan yg dia sebut bu guru saat melihat gambar dan warna yg terpapar dalam kertas dihadapannya
kini tatapan polos terus menatap dan menunggu sang guru memberikan hadiah akan hasil kerjanya
apalagi kalau bukan sebentuk bintang disudut kertas miliknya.
sekejap kembali terkembang senyum dari bibir mungil miliknya
ditempat ini
tak jarang nyanyian-nyanyian sumbang dinyanyikan
tak perlu notasi-notasi nada hanya suara yg dia butuhkan
ditempat ini
tak ada kata malu !
malu untuk melompat !
malu untuk memanjat !
malu untuk berlari
malu untuk menangis karena terjatuh
ditempat ini
dia itu aku
jambi, 4 januari 2011
23.28 wib
dia mulai menggenggam benda
berbentuk sebatang kayu dengan kalam ditengahnya
apa ini?
untuk apa ini?
pertanyaan itulah yg muncul ketika tangan ini menggenggamnya
pensil !
tidak sesederhana mengatakannya
tangan mungilnya terus mencari posisi yg tepat untuk menggenggam benda ini
garis demi garis mulai terbentuk
setiap hari terus digenggam untuk membentuk sebuah huruf yg gurunya bilang "buat perutnya kasih buntutnya"
itu "a"
a dan kawan - kawan t'lah dikuasai meski dengan ukuran yg tidak konstan sesuka hatinya
banyak waktu tiap hari dia luangkan hingga dia dapat menulis sebuah kalimat sederhana ini "ibu pergi kepasar"
sepanjang kertas kosong trus diulang kalimat itu
tanpa kata lelah bahkan tanpa peduli bentuk tulisan yg semakin tidak karuan
senyum polos terus muncul saat sebentuk bintang yg dibentuk bu guru diatas hasil kerja kerasnya
ditempat ini
tangan itu terus membentuk goresan-goresan tak berarah diatas selembar kertas kosong
diisi dengan warna-warna yg sekarang ku nilai begitu norak
merah yg tidak sesuai pada tempatnya
kuning yg tidak sesuai pada tempatnya
hijau yg tidak sesuai pada tempatnya
begitu pula biru yg terus tangan ini gerakan sesuka hati tanpa melihat dimana tempat nya
tanpa sadar warna terang tetap mendominasi
tak ada kata lelah sebelum putihnya kertas berubah warna menjadi terang
senyum simpul kembali muncul dari wajah perempuan yg dia sebut bu guru saat melihat gambar dan warna yg terpapar dalam kertas dihadapannya
kini tatapan polos terus menatap dan menunggu sang guru memberikan hadiah akan hasil kerjanya
apalagi kalau bukan sebentuk bintang disudut kertas miliknya.
sekejap kembali terkembang senyum dari bibir mungil miliknya
ditempat ini
tak jarang nyanyian-nyanyian sumbang dinyanyikan
tak perlu notasi-notasi nada hanya suara yg dia butuhkan
ditempat ini
tak ada kata malu !
malu untuk melompat !
malu untuk memanjat !
malu untuk berlari
malu untuk menangis karena terjatuh
ditempat ini
dia itu aku
jambi, 4 januari 2011
23.28 wib
Langganan:
Postingan (Atom)