Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Aku di penghujung Musik Hujan-Mu

Hujan kali ini hujan yg berbeda. Tak hanya sejuk ditubuhku. Tetapi juga sejuk dihati ini. Membuat aku merindukan masa-masa itu. Aku kembali kekota ini dan berjalan menyusuri setapak yang 3 tahun lalu aku lewati.

Seperti saat itu, tirai hujan senantiasa menemani hariku. Teh hangat Pak Anang yg selalu ku sesap dikala hujan, semakin membuat ku merindukan masa-masa itu. Teh hangat tidak terlalu manis dengan sesendok gula yg begitu Pak Anang hapal.
Warung penuh kehangatan, meskipun saat itu musik hujan yg dingin menggema.

Semua tidak banyak berubah sejak aku meninggalkan kota ini. Yah, kota yg terpaksa kutinggalkan demi menggali ilmu sastra ku di negeri orang. Alhasil, memang benar kata-kata ku saat itu. Awal coretan yang berlatar belakang keisengan kini berakhir dengan UANG.

Dari tempat ku berdiri sekarang aku dapat melihat minimarket tempat aku bekerja dulu. Tempat dimana aku dan Lastri menghabiskan paruh waktu kami. Aku memasuki minimarket. Tampak manager minimarket dengan seragamnya, Lastri. Yaa, dia diangkat sebagai manager disini menggantikan bos ku dulu yg tak bisa hidup tanpa gossip. Lastri terperangah melihatku.
"Unii..Itu kamu?" dia langsung menghambur ke pelukanku.
"Kenapa gak nelpon aku sih, aku kan bisa jemput kamu."
"Loh kalau gitu namanya bukan surprise dong." elak ku.
"kamu!! tetap gak pernah berubah!"
"Loh aku kan UNI, kenapa harus berubah?"
"Ya ya ya, masih Uni yg realistis kan? Menganggap CINTA itu SEDERHANA tidak RIBET!!" ejek Lastri." ya toh?"
"hahaha." aku tertawa mendengar sindiran Lastri.
"Ikut aku yuuk!"
"Kemana?"
"Kewarung Pak Anang." jawabku sambil tersenyum.
"BerNOSTALGILA maksudmu? Hahaha." tawanya lepas seketika. "Tapi gak bisa sekarang Ni, kamu tau kan peraturan disini? Tapi aku janji akan menemuimu 1 jam lagi." pujuk Lastri sambil melirik arloji ditangannya.
"Huuh" aku mendengus kecewa.
"Ok, aku tunggu disana. Jam 5 kurang harus sudah disana!" jawabku sedikit memaksa.
"Iya aku janji!"
Ku peluk tubuh yg kurasa semakin gemuk. Pelukan terakhir sebelum aku pergi.

Aku berjalan meninggalkan minimarket, tentu tanpa melupakan kenanganku disana. Genangan air sisa hujan masih tampak jelas. Hujan yg kini berganti gerimis romantis seperti kataku dulu.

Langkahku kembali terhenti. Tepat dipekarangan mesjid yg dulu setiap harinya aku lalui. Tenang dan merindukan. Tempat dulu aku pernah berteduh. Tempat aku temukan sebentuk hati disajadah merah. Tempat ini masih begitu hangat, sehangat sambutan-Mu untukku. Dan sama seperti saat itu. Tak ada orang lain. Hanya kita berdua. Aku dan -Mu Ya Allah. Tak ada musik lain selain musik hujan-Mu dan lagu-Mu dihatiku. Aku akan mengetuk pintu ke tiga-Mu sebelum Aku meninggalkan rumah-Mu.

***
Jam ditanganku menunjukkan pukul setengah lima lewat. Aku bergegas untuk sampai ke warung pak Anang. Hujan sebentar lagi mungkin akan benar-benar berakhir. Aku tidak ingin melewatkan hujan tanpa teh hangat. Aku berlari-lari kecil melewati genangan-genangan air.
Payung hijau yg dari tadi kupakai ikut menari-nari dalam tirai hujan. Seakan berlomba dengan ojek payung yg berlarian mengejar pelanggan mereka.

Aku tinggal menyeberang trotoar ini untuk sampai kewarung pak Anang yg sudah didepan mata. Tak sabar rasanya merasakan kehangatan warung itu lagi. Teh hangat dan hujan, perpaduan yg kusuka.

Beberapa langkah lagi aku akan sampai kewarung pak Anang. Iya beberapa langkah lagi.

Aku mendengar seseorang meneriakan namaku. Aku berhenti dan menoleh kebelakang. Dia, dia yg meninggalkan aku si hujan karena si pelangi. Dia mengucapkan sesuatu. Tapi terdengar samar.
"......"
"MINGGIIIIIIR!!!"

Seketika tubuhku ditubruk benda keras, terpelanting, dan terhempas.

Aku menikmati hujan terakhir ku. Tak ada musik lain selain musik hujan-Mu dan lagu-Mu dihatiku. Aku hujan yg hilang ketika pelangi muncul. Dalam tirai hujan, aku menyimpan banyak hal.

*previous
(Sependar Pelangi dalam Hujan)
(Dia Pelangi & Aku Hujan)
(Seperti Hujan Saat itu)
(Sebentuk Hati di Sajadah Merah)
(Ojek Payung Hati dalam Tirai Hujan)


# ini part ke-6 dari buku yg dari tadi saya baca. Cerita seorang Uni yg begitu menyukai Hujan. Uni yang mati dipenghujung hujan ketika pelangi mulai terpendar.

Sampul buku yg berjudul "Coretan diatas kertas"
dihiasi puisi singkatnya

"kubuka catatan harianku
sekedar flash back belaka
terus kubolak balik lembar demi lembar buku ini
sambil sesekali ku tersenyum kecil membaca kesedihanku yg sekarang terkesan lucu
terus kelembar berikutnya
ada rasa sedih ketika kubaca kebahagiaan saat itu
apa isi buku ini?"

kini saya membaca kebagian akhir puisi disampul buku.

"dibuku ini kutulis tentang mereka
dibuku ini kutulis nama-nama itu
dibuku ini kutulis harapanku
dibuku ini kutulis cintaku
dibuku ini kutulis hidupku
mataku berhenti dibagian akhir buku ini
tak ada satu tintapun tergores disitu
aku sengaja mengosongkan lembar akhir ini
untuk menulis bagian hidupku yg mungkin saja terlupakan olehku."

cici wuni

Sabtu, 09 April 2011

Dia Pelangi & Aku Hujan

Mendung yg telah muncul sejak pagi sekarang berakhir dengan hujan. Aku berdiri tegak memandang orang-orang lalu lalang dari dinding kaca etalase mini market tempatku bekerja. Mereka sibuk dengan payung masing-masing sambil berkejaran dengan hujan.

Sudah seminggu yg lalu kumelihatnya melintasi warung Pak Anang. Dan sudah seminggu juga aku tak mampir ke warung itu. Aku terlalu sibuk mempersiapkan lamaran pekerjaanku di salah satu majalah ternama dikota ini. Paling tidak aku bisa menyalurkan hobiku ditempat kerja baruku, meski hanya dibelakang kertas. Tak sia-sia juga tentunya aku belajar sastra selama 4 semester ini. Tulisan yg dulunya berlatar belakang keisengan semata. Yang sekarang mungkin saja berakhir dengan UANG.
hahaha, aku tidak munafik kawan. Aku bekerja memang untuk mencari uang.

Aku ingat saat tes wawancara kemarin.

"Nama kamu cukup singkat. Panggilannya siapa?" kata maneger majalah tempat ku melamar pekerjaan.
"Cukup panggil Uni saja Pak."
"Apa kamu orang Padang?" tanyanya bingung.
"Hah? Tidak pak, itu hanya nama. Mungkin karna saya lahir dibulan juni." sanggahku cepat.
"Baiklah Uni,kalau kamu diterima, bekerjalah dengan....!

***
"Mbak...mbak !!"
"Oh... Maaf mas." lamunanku terbuyar ketika seorang lelaki setengah baya ingin membayar belanjaannya.
"Iy saya perhatiin dari tadi mbaknya hanya ngelamun aja." ucapnya setelah ku mengambil barang belanjaanya untuk dihitung. Membuat aku tersipu malu. Dengan cepat aku mulai menghitung satu persatu belanjaannya.
"dua puluh tujuh ribu seratus mas."
"Ini mbak."dia menyodorkan uang pecahan lima puluhan. Yg segera kuambil, serta dengan memberi struk pembayaran dan uang kembaliannya.
Dia terburu-buru berlalu pergi melintasi pintu masuk minimarket.

"Uni..mas yg tadi itu cakep ya?" Lastri tiba-tiba muncul dari samping rak barang.
"Lelaki yg baru keluar itu?"tanyaku.
"Iya, yg tadi sempat mengobrol denganmu?"
"Iya lumayan."
"Lumayan gimana? Cakep banget tau."
"Yah, terserahmu la Tri. Eh iy tolong jagain bentar. Aku mau ketoilet."
"Yee, cepatan ya. Kerjaanku juga numpuk."
"Iya makanya kerjaanmu jangan liatin cowok truss !" aku bergegas ketoilet sebelum Lastri berceloteh lagi.

"Makasia Tri." ucapku pada Lastri yg baru saja mengembalikan uang kembalian kepada seorang pembeli.
"Njih Ni."

Aku kembali memandang keluar, hujan masih saja seperti tadi terdengar teratur yg semakin membuatku gelisah.

"Kamu kenapa gelisah banget sich Ni?" tanya Lastri padaku.
"Aku kepikiran panggilan penerimaan pekerjaanku Las." keluhku.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau mereka gak menghubungiku berarti aku gak keterima."
"Kamu pasti keterima Ni, sabar aja nunggunya."
"Iya Las, aku sedikit takut."

***
Mataku kembali melirik jalanan diluar yg terus terguyur hujan. Payung-payung yg merentang berkelebat dimataku. Aku menyukai hujan, Ehmm...sebenarnya bukan hujan tetapi gerimis. Iya seperti saat itu aku katakan. Gerimis romantis.

Pikiranku tiba-tiba kembali kesosoknya. Sosok laki-laki yg dulu aku cintai. Sosok laki-laki yg pernah aku ceritakan sebelumnya, tetapi terpotong saat pengamen kecil diwarung Pak Anang menghampiri mejaku.

Laki-laki yg berpisah dengan ku karena alasan kesibukan pekerjaannya. Laki-laki yg ternyata membohongiku. Yah, setelah beberapa hari percakapan terakhir kami, aku bertemu dia dengan seorang wanita.

Wanita yg ku tahu anak atasan dikantornya. Dan sejak saat itu semua semakin jelas.
Tak ada waktu untuk ku. Tapi ada waktu untuknya, wanita itu.

Dia pelangi dan aku hujan. Pelangi yg muncul setelah hujan. Pelangi yg indah dan menawan sementara hujan hanya memberi kesejukan dan kenyamanan bagi yg membutuhkan atau kadang tidak dibutuhkan. Pelangi yg selalu dinanti setelah hujan. Sedangkan hujan hilang dengan datangnya pelangi.
Pelangi yg tidak akan ada tanpa adanya hujan. Tapi kau dan kebanyakan orang tidak pernah sadar itu.

Sejak saat itu aku tau kau bukan orang yg ku kenal. Semua sisa cintaku lenyap bersama munculnya pelangi setelah hujan.


*previous ( Seperti Hujan saat Itu)

Selasa, 05 April 2011

Seperti Hujan Saat itu

Untuk kesekian kalinya kutulis diceritaku bahwa hujan mengguyur kotaku lagi. Dan untuk kesekian kalinya juga aku minum teh hangat diwarung pak Anang.

Warung kopi yg tentunya tak hanya menjual kopi seperti namanya. Warung kopi milik pak Anang dan ibu Yanti.

Eits, jangan kalian berpikir ini warung kopinya selebritis. Nama suami istri ini hanya kebetulan saja sama dengan pasangan selebritis yg telah bercerai. Toh Anang telah mengandeng Syahrini dan sekarang Ashanti sedangkan Yanti menggandeng Raul. Yah, berita yg sedang hangat-hangatnya dibicarakan disegala infotainment stasiun tv yg sering, atau bisa dibilang terpaksa kutonton di minimarket tempat kerjaku.
Karena apa?
Karena pemilik minimarket itu begitu mencintai gosip. Gosip apa saja tentunya. Upps, kali ini aku bukan ingin membicarakan Anang KD maupun bos ku.

Aku menyesap teh hangat yg baru saja dibuatkan pak Anang. Hujan yg tadi sempat membuat bajuku basah kini berangsur gerimis romantis. Aku memang lebih suka mengatakannya demikian biar terkesan penting dan menarik kawan.

hmm,, hujan tadi menyisakan rintik-rintik yg begitu indah dilihat. Seekor burung terbang dari pohon rindang disamping warung. Meliuk-liuk tak beraturan seperti burung yg baru belajar terbang. Benar dugaanku, belum beberapa menit terbang ia sudah mendarat darurat dipinggir trotoar. Seekor burung lagi langsung mendekatinya, kurasa itu ibunya.

Aku jadi teringat ibuku dikampung yg sudah hampir 2 tahun kutinggalkan demi menggapai cita-cita.
Lamunanku terbuyar, karena seorang laki-laki yg dulu begitu ku kenal melintasi warung pak Anang. Tapi sayang dia telah menyebrang dan aku terlambat untuk memastikannya.
Aku hapal gerak-gerik tubuhnya, Dia. Dia yg pernah ku katakan belum saatnya aku ceritakan. Dia yg dulu menemani hari-hariku. Dia yg semakin tak ada waktu untukku. Aku ingat percakapan terakhir kami.

"Kamu seharusnya ngertiin pekerjaanku Ni!?"
"Aku sudah berusaha ngertiin kamu mas, tapi gak selamanya aku menjadi seorang yg pengertian."
"........?" dia hanya diam. Aku pun diam.
Sekian menit kami saling diam, tenggelam bersama pikiran masing-masing. Sampai akhirnya aku bersuara.
"aku gak butuh satu harimu ataupun 1 jammu mas, tapi aku hanya ingin 1 menitmu untuk membalas sms ku, apa kamu gak sadar ka..."
"Maafin aku Ni, aku tau aku salah, tapi aku gak bisa pungkiri aku terlalu menikmati pekerjaanku, aku minta maaf." dia memotong perkataanku.

Sejak percakapan itu, tak ada lagi percakapan kami selanjutnya. Aku dan dia berpisah. Sejak 1 tahun itu juga aku tak pernah bertemu dengannya. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan bedua. Sejak saat itu pula tak ada lelaki lain dihati ini.
Eits, jangan kalian berpikir karna aku masih mencintainya. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menikmati pekerjaanku dan kuliahku juga. Serta menikmati teh hangat sendirian dikala hujan setiap aku menginginkannya. Tanpa harus menambah beban hati dan pikiranku yg saat ini saja sudah menumpuk.

Lamunanku terbuyar akan sosoknya, ketika pengamen kecil datang menghampiri ku, wajah lelaki kecil yg familiar setiap kudatang kewarung pak Anang.

Aku tersenyum untuk menyapanya.
Lantunan lirik lagu milik utopia mulai terdengar dari mulut pengamen itu. Dan aku menikmati kesendirianku dipenghujung hujan kali ini.

"Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yg mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap takkan berubah

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita yg mengalir s'perti air

..............

Aku bisa tersenyum sepanjang hari karna hujan pernah menahanmu disini
untuk ku....."


#previous (Sebentuk Hati di Sajadah Merah)

Senin, 07 Februari 2011

Yang Mati Itu

“Dia telah menghilang dari tempat duduknnya”

Hari ini aku akan pulang kekotaku setelah liburan panjang yang aku habiskan dikampung nenek. Butuh waktu sekitar 6 jam perjalanan yang melelahkan untuk sampai ke kota ku. Apalagi aku harus melewati perjalanan ini sendirian dalam bus.
Sekarang waktu menunjukan pukul 5 sore, tepat jadwal keberangkatan bus ini. Aku telah berada dalam bus ini sejak setengah jam yang lalu. Kursi – kursi mulai terisi satu persatu. Pukul 11 malam pasti aku sudah sampai dan bisa tidur nyenyak dikamarku, pikir ku penuh harap.
Bus ini cukup luas dengan deretan kursi 3 disebelah kanan dan kursi 2 disebelah kiri. Aku sengaja mengambil kursi dua dipojok belakang dekat jendela agar dapat melihat pemandangan sepanjang jalan ini. Kursi disebelah ku kebetulan belum ada penghuninya, kuharap seseorang yang bisa kuajak mengobrol dalam perjalanan ini. Tidak seperti keberangkatanku kemarin yang dipenuhi dengkuran seorang lelaki setengah baya disampingku.
Kulihat sopir bus yang duduk di bangku pengemudi sedang merapikan letak topinya, serta kain lap keringat yang melingkar dilehernya tak lupa ia rapikan. Sepertinya bus ini akan segera berangkat, namun kursi disebelahku belum juga di tempati.
“Ah !” aku mendengus kecewa.
Tapi kekecewaanku menghilang ketika seorang gadis kuncir kuda itu berjalan dilorong kecil bus. Aku terus memperhatikan gadis itu, setelah jins hitam dengan kemeja biru yang dikenakannya membuat ia begitu cantik. Dia terus berjalan ke arahku. Ah bodohnya aku, tentu saja karena hanya satu kursi kosong disampingku yang tersisa.
Kini ia berdiri disamping kursi kosong disebelahku. Senyum yang ia lontarkan sungguh manis dengan lesung pipi yang ia miliki. Oh Tuhan begitu cantiknya ciptaan-Mu ini. Aku terus melihatnya, tanpa kusadari kini mata hitam miliknya balik menatapku heran.
“Hey, apa aku boleh duduk disini?” tanyanya.
“si silahkan”, jawabku gugup dengan senyuman yang kurasa kecut bercampur malu.
“Rara”, diuluakan tangannya ke arahku.
Tentu kusebut juga namaku namun tetap gugup. Tangan gadis itu begitu dingin. Apa hanya perasaanku saja?
Dari perkenalan itu banyak percakapan yang kami bicarakan. Aku lama-kelamaan sudah terbiasa dengan adanya Rara. Tak ada lagi rasa gugup tadi. Hanya saja wajah pucatnya membuat aku khawatir apa dia sakit?
Yang kutahu dia juga baru saja liburan dikampung yang bertepatan disebelah kampung nenekku. Cukup banyak hal yang aku dan dia bicarakan.
***
Sirene ambulance diluar membangunkanku. Tanpa sadar ternyata aku tertidur, entah sejak kapan aku tertidur. Diluar begitu ramai, sepertinya ada kecelakaan mobil. Kulihat jam ditanganku menunjukkan pukul 9 malam. Kupalingkan mataku kearah dimana Rara duduk. Dia telah menghilang dari tempat duduknya. Apa mungkin dia keluar bus untuk menghirup udara segar.
Hmm… sebaiknya aku keluar untuk mencarinya.
Cukup sulit aku berjalan untuk mencarinya dikerumunan kendaraan dan orang-orang ini. Tak kunjung aku temukan Rara di mana-mana. Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku. Lampu-lampu sorot dari kendaraan yang mengantri membuat mataku begitu sulit terbuka. Terpaksa kusipitkan mataku untuk terus berjalan.
Kini aku berada didepan kerumunan orang yang berdiri tepat didekat mobil sedan hitam. Oh, jadi mobil yang menabrak pembatas jalan ini yang membuat kepulanganku terlambat. Sekilas kulihat wajah pengemudi mobil itu yang telah tewas, sebelum kuberanjak kembali kebus.
Rara. Ucapku dalam hati. Langkahku seketika terhenti dan segera membalikkan pandangan kearah yang tadi kulihat. Mataku tantu tidak salah melihat meski terasa perih akibat sorot lampu kendaraan. Aku yakin itu Rara. Rara yang selama perjalanan tadi bersamaku.
Rasanya kini kepalaku berkunang-kunang dengan apa yang kulihat. Segera ku senderkan tubuhku kesalah satu mobil. Rasa tidak percayaku sungguh berlawanan dengan apa yang kulihat. Dari seorang bapak disana aku tahu perempuan pemilik mobil itu mati menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. Perempuan itu Rara.
Apa aku bermimpi?

Selasa, 01 Februari 2011

Lili Padang Rumput

4 juni

Aku kembali lagi ke padang rumput ini. Tercium wangi rerumputan yang masih sama dengan beberapa tahun lalu. Aku dapat merasakan semilir angin menerpa setiap helai rambutku. Begitu sejuk dikuduk ku. Aku terus mencari sesosok gadis bernama Lili yang ku kenal 2 tahun lalu ditempat ini.

Seperti biasanya tepat pukul empat sore, dia selalu datang ke padang rumput ini untuk mengambil bunga lili putih. Bunga lili putih kesukaan aku dan dia. Bunga yang sama dengan namanya.

Lili putih ini tumbuh liar dibukit dekat sungai dibelakang padang rumput ini. Sudah pukul empat lewat tapi belum juga kudapati Lili disini, dipadang rumput ditempat biasanya aku berjanjian dengannya 2 tahun lalu.

Ah, mungkin saja aku yg terlambat datang. Aku segera ke bukit di dekat sungai, berharap Lili sedang memetik bunga dengan keranjang bambu segiempatnya. Tapi tidak seperti harapanku, tetap tak ku dapati gadis penyuka warna hijau itu disana. Tempat itu begitu semak, tak ada tanda tangan-tangan yang memetik bunga-bunga ini.

Matahari perlahan mulai menyembunyikan wajahnya, aku beranjak pulang. Aku menyesal tidak menanyakan dimana tempat tinggalnya 2 tahun lalu. Aku ingat begitu anggunnya dia saat terakhir aku melihatnya dengan gaun hijau tua.

5 juni

Sore itu aku kembaki lagi kepadang rumput itu. Tentu lebih cepat dari waktu biasanya.

Sama halnya seperti kemarin tak kunjung ku temui Lili. Kenapa? Ah tidak, mungkin dia hanya terlambat. Lebih baik aku tunggu dia di bukit itu.

Hmmm... Sudah lebih satu jam aku duduk menunggu disini. Hari mulai gelap. Aku harus segera pulang.

Bruukk !!! Belum beberapa langkah aku berjalan aku tersandung sesuatu. Meski hanya penerangan lampu jalan dekat padang rumput yg redup, aku dapat melihat dengan jelas bahwa itu sebuah nisan yg sudah begitu tua. Aku mulai membaca satu-persatu huruf yang terukir diatas nisan itu

LILI WONDERWOLF
05-06-1959 _05-06-1978

Ini tidak mungkin !
Siapa Lili yang kukenal dua tahun lalu ??

Selasa, 18 Januari 2011

Futsal Hari Ini

Hiruk pikuk dilapangan begitu memekakkan telinga. Pertandingan futsal hari ini begitu riuh dengan suara sorak sorai penonton. Untunglah hari ini tidak begitu panas,segumpalan awan putih terus menerus berubah bentuk mengikuti tiupan angin.

Sudah beberapa hari kampus ku mengadakan pertandingan futsal antar kelas. Tentu saja aku ikut serta sebagai salah satu wakil dari kelasku. Aku bersyukur dianugrahi kaki yg beberapa pertandingan sebelumnya berhasil mencetak gol hingga mencapai babak final ini.
30 menit lagi aku akan bertanding, dan aku berjanji akan membawa piala kemenangan buatnya. Ya, buat gadis manis diseberang lapangan yg selalu setia memperhatikan gerak kakiku mengocek bola. Yang selama 2 tahun ini menghiasi hari-hariku. Dari sini aku dapat melihat betapa manisnya dia dengan dress hitam yg dia kenakan. Kenapa hitam? Warna yg tidak disukainya, warna yg dia bilang tidak ada kehidupan setiap aku memakai baju hitam kesayanganku.



"SELANJUTNYA PERTANDINGAN ANTARA TIM bla bla bla bla" suara dari panitia tidak begitu terdengar akibat berisiknya suara suporter. Aku tau timku yg akan bermain. Teman-temanku sedang menyiapkan diri mereka. Tali sepatu yg diikat sekencang-kencangnya, serta pemanasan kecil ditempat. Satu persatu mereka memasuki lapangan.
Hey, tunggu!
Bagaimana dengan aku?


*
Tiupan peluit dari wasit menandakan pertandingan dimulai. Hiruk pikuk kembali terdengar. Suara-suara dari masing suporter terus saling bersaut-sautan. Tapi tidak dengan gadis itu, yg hanya menunduk sedih, bahkan sekarang dia melangkah pergi meninggalkan lapangan dengan lambaian dress hitamnya. Apa kau tidak menyadari kehadiranku sayang ?

**
Aku ingin mengocek bola itu. Aku ingin membobol gawang lawan. Dan aku ingin mendengar suara gadis diseberang lapangan meneriakkan namaku.
Ah,tentu aku yg akan bermain hari ini kalau saja 3 hari yg lalu truk sialan itu tidak menabrak motorku.
Hingga aku tidak akan MATI sekonyol ini.
ah !

(jambi, 18 januari 2011)

Sabtu, 15 Januari 2011

12 MENIT DALAM 2 CANGKIR TEH

Disudut telah tersender koper biru besar milik ku. Aku masih memperhatikannya yang dari tadi mencoba satu persatu baju dilemari pakaian itu. Sejak 1 jam tadi tengah sibuk menyiapkan diri dikosan kami untuk kencan malam ini bersama pacarnya. Ada suatu perasaan aneh setiap aku melihat kebersamaan mereka. Perasaan cemburu yng kurasa tak pantas.
“Kamu ngelamunin apaan?” suara lembutnya menyadarkanku.
“Gimana? Apa aku terlihat cantik, dia akan menjemputku pukul 19.30?”.
“Kamu begitu cantik dengan terusan merahmu”, jawabku. Senyumnya yang tipis merekah saat itu.
“Hmmm… apakah kau akan tetap pindah dari sini? Tidakkah kau mau menemani sahabatmu ini, setidaknya 1 atau 2 bulan lagi”. Belasan dari wajah itu, oh Tuhan.
“Ya malam ini aku akan pindah setalah kau pergi bersamanya”,”sebelum itu apakah kau punya waktu untuk minum teh hangat kesukaan kita sebelum kau pergi? Aku telah siapkan semuanya diatas meja”, anggukan darinya cukup menjawab tanyaku.
19.18
“Aku punya waktu 12 menit lagi untuk kebersamaan terakhir kita”, sambil menarik tanganku menuju meja dimana kupersiapkan tah hangat kesukaan kami. Dua cangkiir teh hangat diantara kita. Dua sendok gula untuk tahmu, dan satu sendok gula untukku, yah seperti biasanya.
Senyum darimu menambah kehangatan kita. Aku menyukai senyumnya, gelak tawanya bersamaku. Serta kebaikannya padaku setelah ku pergi dari ayahku yang kejam.
19.30
Kusesap teh terakhir dari cangkirku, begitu juga kamu.
“Nikmati tehnya pelan-pelan saja, karena ini teh terakhir kita” kataku padanya.
“Tidak. Aku akan sering mengunjungi kostsan barumu, tentu dengan teh hangat kita”, kau mencoba meyakinkanku.
Aku pastikan aku yang akan terus mengunjungi mu. Ku ambil sesuatu dari sakuku, tentunya ini hadiah untukmu sayang.
12 menit, 2 cangkir teh hangat, cairan merah pekat dari tubuhmu.
***
Tidakkah kau merasa begitu indahnya 12 menit terakhir kita.
Lihatlah!!
Wajah cantikmu diujung kakiku serta merah pekat dari bajumu.
Maaf aku mencintaimu.


(15 januari 2011)