Senin, 14 Maret 2011

Sebentuk Hati di Sajadah Merah

(Hujan kali ini hujan yang berbeda. Tak hanya sejuk ditubuhku, tetapi juga sejuk dihati ini. Begitu sejuk dan membuatku merindukan-Nya)

“Tolongin aku ya Ni, aku itu udah ada janji sama mas ku” Lastri memohon padaku
“Tapi aku udah kerja dari pagi iki, cape tenan aku Tri. Apalagi besok kuliah pagi lanjut shift malam. Mas mu yang mana toh?”
“Kali ini aja, yah? Besok aku deh yang gantiin kamu shift malam, jadi kamu besok bur bur bur libuuuur. Itu loh mas ku ketemu gede”
“Hmmm,, aku gak bisa Tri” aku menggeleng. “Tega bener kamu bersenang-senang diatas penderitaan temenmu ini Tri”
“Sekali ini aja Ni, aku mohon sama kamu” Lastri memohon lagi.
“Yo wes lah, kali ini aja ya?”
“Alhamdulillah, makasi loh Ni”
“Njih, tapi besok jangan lupa gantiin aku kerja kamunya”
“Hehehe, iya iya. Kamu teman terbaikku Ni”
“Nyengir kamu yoh? Pujian mu itu udah gak mempan buatku”
***
Badanku sudah setengah basah melewati perjalanan dari minimarket tempat kerjaku. Payung yang sudah kusiapkan tertinggal begitu saja dikostan tadi pagi. Hari ini aku menggantikan shift malamnya Marni. Aku lupa ini malam minggu, pantas saja dia mati-matian membujukku tadi. Alhasil aku kebagian hujan juga malam-malam begini.
Hmmm,, Aku lupa malam minggu. Kalian tidak perlu heran atau bahkan menertawakanku. Aku bukan lupa, tapi melupakannya. Sejak hujan menghapus jejaknya. Memang menyedihkan, tapi akan lebih menyedihkan kalau aku basah kuyup malam ini.
Ah, ingin rasanya mampir kewarung pak Anang dan ibu Yanti, tempat biasanya aku berteduh disaat hujan seperti ini. Dengan secangkir teh hangat tentunya, tapi waktu berkata lain. Dengan jam yang menunjukan pukul 9 malam ini tidak mungkin warung pak Anang masih buka. Memang tidak seperti warung lainnya yang biasanya jam segini masih buka.
Benar-benar akan basah sekujur tubuhku jika aku tidak segera berteduh. Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan tempat berteduh. Yah, tepat dipekarangan mesjid yang setiap harinya aku lalui. Tenang dan merindukan. Bukan sekedar tempat berteduh seperti biasanya, ini tempat berteduh spesial. Aku merindukan saat-saat ini. Tak seperti biasanya yang harus kulalui berpacu dengan waktu untuk mengetuk pintu-Mu. Aku mengingat satu hal. Tinggal 1 lagi pintu-mu yang belum kuketuk, dan semuanya akan lengkap hari ini Tuhan.
Atmosfer disini begitu hangat, berbeda sekali dengan hujan-Mu. Begitu hangat, sehangat setiap sambutan-Mu untukku. Tak ada orang lain. Hanya kita berdua. Aku dan Engkau. Tak ada musik lain selain musik hujan-Mu dan lagu-Mu dihatiku.
Hari ini penutupan ku ketuk pintu-Mu. Aku akan kembali mengetuk pintu-Mu dikala seruan fajar-Mu memanggilku esok. Diatas sajadah merah kutemukan sebentuk hati, kuharap itu hatiku untuk-Mu Tuhan.

*disajadah merahku ada sebentuk hati yang melingkari mesjidnya, dan ku harap itu hatiku untuk-Mu.

(Jambi, 14 maret 2011 - 22.00 WIB)

Tidak ada komentar: