Selasa, 05 April 2011

Seperti Hujan Saat itu

Untuk kesekian kalinya kutulis diceritaku bahwa hujan mengguyur kotaku lagi. Dan untuk kesekian kalinya juga aku minum teh hangat diwarung pak Anang.

Warung kopi yg tentunya tak hanya menjual kopi seperti namanya. Warung kopi milik pak Anang dan ibu Yanti.

Eits, jangan kalian berpikir ini warung kopinya selebritis. Nama suami istri ini hanya kebetulan saja sama dengan pasangan selebritis yg telah bercerai. Toh Anang telah mengandeng Syahrini dan sekarang Ashanti sedangkan Yanti menggandeng Raul. Yah, berita yg sedang hangat-hangatnya dibicarakan disegala infotainment stasiun tv yg sering, atau bisa dibilang terpaksa kutonton di minimarket tempat kerjaku.
Karena apa?
Karena pemilik minimarket itu begitu mencintai gosip. Gosip apa saja tentunya. Upps, kali ini aku bukan ingin membicarakan Anang KD maupun bos ku.

Aku menyesap teh hangat yg baru saja dibuatkan pak Anang. Hujan yg tadi sempat membuat bajuku basah kini berangsur gerimis romantis. Aku memang lebih suka mengatakannya demikian biar terkesan penting dan menarik kawan.

hmm,, hujan tadi menyisakan rintik-rintik yg begitu indah dilihat. Seekor burung terbang dari pohon rindang disamping warung. Meliuk-liuk tak beraturan seperti burung yg baru belajar terbang. Benar dugaanku, belum beberapa menit terbang ia sudah mendarat darurat dipinggir trotoar. Seekor burung lagi langsung mendekatinya, kurasa itu ibunya.

Aku jadi teringat ibuku dikampung yg sudah hampir 2 tahun kutinggalkan demi menggapai cita-cita.
Lamunanku terbuyar, karena seorang laki-laki yg dulu begitu ku kenal melintasi warung pak Anang. Tapi sayang dia telah menyebrang dan aku terlambat untuk memastikannya.
Aku hapal gerak-gerik tubuhnya, Dia. Dia yg pernah ku katakan belum saatnya aku ceritakan. Dia yg dulu menemani hari-hariku. Dia yg semakin tak ada waktu untukku. Aku ingat percakapan terakhir kami.

"Kamu seharusnya ngertiin pekerjaanku Ni!?"
"Aku sudah berusaha ngertiin kamu mas, tapi gak selamanya aku menjadi seorang yg pengertian."
"........?" dia hanya diam. Aku pun diam.
Sekian menit kami saling diam, tenggelam bersama pikiran masing-masing. Sampai akhirnya aku bersuara.
"aku gak butuh satu harimu ataupun 1 jammu mas, tapi aku hanya ingin 1 menitmu untuk membalas sms ku, apa kamu gak sadar ka..."
"Maafin aku Ni, aku tau aku salah, tapi aku gak bisa pungkiri aku terlalu menikmati pekerjaanku, aku minta maaf." dia memotong perkataanku.

Sejak percakapan itu, tak ada lagi percakapan kami selanjutnya. Aku dan dia berpisah. Sejak 1 tahun itu juga aku tak pernah bertemu dengannya. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan bedua. Sejak saat itu pula tak ada lelaki lain dihati ini.
Eits, jangan kalian berpikir karna aku masih mencintainya. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin menikmati pekerjaanku dan kuliahku juga. Serta menikmati teh hangat sendirian dikala hujan setiap aku menginginkannya. Tanpa harus menambah beban hati dan pikiranku yg saat ini saja sudah menumpuk.

Lamunanku terbuyar akan sosoknya, ketika pengamen kecil datang menghampiri ku, wajah lelaki kecil yg familiar setiap kudatang kewarung pak Anang.

Aku tersenyum untuk menyapanya.
Lantunan lirik lagu milik utopia mulai terdengar dari mulut pengamen itu. Dan aku menikmati kesendirianku dipenghujung hujan kali ini.

"Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yg mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap takkan berubah

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita yg mengalir s'perti air

..............

Aku bisa tersenyum sepanjang hari karna hujan pernah menahanmu disini
untuk ku....."


#previous (Sebentuk Hati di Sajadah Merah)

Tidak ada komentar: