Mendung yg telah muncul sejak pagi sekarang berakhir dengan hujan. Aku berdiri tegak memandang orang-orang lalu lalang dari dinding kaca etalase mini market tempatku bekerja. Mereka sibuk dengan payung masing-masing sambil berkejaran dengan hujan.
Sudah seminggu yg lalu kumelihatnya melintasi warung Pak Anang. Dan sudah seminggu juga aku tak mampir ke warung itu. Aku terlalu sibuk mempersiapkan lamaran pekerjaanku di salah satu majalah ternama dikota ini. Paling tidak aku bisa menyalurkan hobiku ditempat kerja baruku, meski hanya dibelakang kertas. Tak sia-sia juga tentunya aku belajar sastra selama 4 semester ini. Tulisan yg dulunya berlatar belakang keisengan semata. Yang sekarang mungkin saja berakhir dengan UANG.
hahaha, aku tidak munafik kawan. Aku bekerja memang untuk mencari uang.
Aku ingat saat tes wawancara kemarin.
"Nama kamu cukup singkat. Panggilannya siapa?" kata maneger majalah tempat ku melamar pekerjaan.
"Cukup panggil Uni saja Pak."
"Apa kamu orang Padang?" tanyanya bingung.
"Hah? Tidak pak, itu hanya nama. Mungkin karna saya lahir dibulan juni." sanggahku cepat.
"Baiklah Uni,kalau kamu diterima, bekerjalah dengan....!
***
"Mbak...mbak !!"
"Oh... Maaf mas." lamunanku terbuyar ketika seorang lelaki setengah baya ingin membayar belanjaannya.
"Iy saya perhatiin dari tadi mbaknya hanya ngelamun aja." ucapnya setelah ku mengambil barang belanjaanya untuk dihitung. Membuat aku tersipu malu. Dengan cepat aku mulai menghitung satu persatu belanjaannya.
"dua puluh tujuh ribu seratus mas."
"Ini mbak."dia menyodorkan uang pecahan lima puluhan. Yg segera kuambil, serta dengan memberi struk pembayaran dan uang kembaliannya.
Dia terburu-buru berlalu pergi melintasi pintu masuk minimarket.
"Uni..mas yg tadi itu cakep ya?" Lastri tiba-tiba muncul dari samping rak barang.
"Lelaki yg baru keluar itu?"tanyaku.
"Iya, yg tadi sempat mengobrol denganmu?"
"Iya lumayan."
"Lumayan gimana? Cakep banget tau."
"Yah, terserahmu la Tri. Eh iy tolong jagain bentar. Aku mau ketoilet."
"Yee, cepatan ya. Kerjaanku juga numpuk."
"Iya makanya kerjaanmu jangan liatin cowok truss !" aku bergegas ketoilet sebelum Lastri berceloteh lagi.
"Makasia Tri." ucapku pada Lastri yg baru saja mengembalikan uang kembalian kepada seorang pembeli.
"Njih Ni."
Aku kembali memandang keluar, hujan masih saja seperti tadi terdengar teratur yg semakin membuatku gelisah.
"Kamu kenapa gelisah banget sich Ni?" tanya Lastri padaku.
"Aku kepikiran panggilan penerimaan pekerjaanku Las." keluhku.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau mereka gak menghubungiku berarti aku gak keterima."
"Kamu pasti keterima Ni, sabar aja nunggunya."
"Iya Las, aku sedikit takut."
***
Mataku kembali melirik jalanan diluar yg terus terguyur hujan. Payung-payung yg merentang berkelebat dimataku. Aku menyukai hujan, Ehmm...sebenarnya bukan hujan tetapi gerimis. Iya seperti saat itu aku katakan. Gerimis romantis.
Pikiranku tiba-tiba kembali kesosoknya. Sosok laki-laki yg dulu aku cintai. Sosok laki-laki yg pernah aku ceritakan sebelumnya, tetapi terpotong saat pengamen kecil diwarung Pak Anang menghampiri mejaku.
Laki-laki yg berpisah dengan ku karena alasan kesibukan pekerjaannya. Laki-laki yg ternyata membohongiku. Yah, setelah beberapa hari percakapan terakhir kami, aku bertemu dia dengan seorang wanita.
Wanita yg ku tahu anak atasan dikantornya. Dan sejak saat itu semua semakin jelas.
Tak ada waktu untuk ku. Tapi ada waktu untuknya, wanita itu.
Dia pelangi dan aku hujan. Pelangi yg muncul setelah hujan. Pelangi yg indah dan menawan sementara hujan hanya memberi kesejukan dan kenyamanan bagi yg membutuhkan atau kadang tidak dibutuhkan. Pelangi yg selalu dinanti setelah hujan. Sedangkan hujan hilang dengan datangnya pelangi.
Pelangi yg tidak akan ada tanpa adanya hujan. Tapi kau dan kebanyakan orang tidak pernah sadar itu.
Sejak saat itu aku tau kau bukan orang yg ku kenal. Semua sisa cintaku lenyap bersama munculnya pelangi setelah hujan.
*previous ( Seperti Hujan saat Itu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar