Sabtu, 02 April 2011

Es Kado

Hari ini hari minggu, seharusnya rezekiku mengalir juga seperti aliran senyum anak-anak yang menyukai hari ini. Tapi aku masih berteduh di pangkalan ojek yg sudah tak terpakai lagi. Tepatnya sejak 30 menit yang lalu ketika hujan tiba-tiba mengguyur pelan dan sekarang deras.

Kakiku kini dipenuhi percikan tanah dari hujan dan menambah begitu tak layaknya sandal jepit yg disanggah peniti dibagian bawahnya.

Aku menatap gerobak es didepanku, bagaimana jualanku laku dibeli orang kalau hujan masih saja bersenandung tanpa henti.

Apa yang harus ku katakan pada dinda yang sudah lama meminta tas baru mengingat tas lamanya memang sudah tak layak pakai, tas dengan anyaman tali rafia buatan ku. Oh, hatiku begitu sakit membayangkan rengekan dinda anak ku.

"pak, apa hari ini jualan bapak habis"
"tidak sayang, sisa sedikit".
"jadi belum bisa beliin dinda tas baru ya pak"
"iy, dinda yang sabar ya nak, kalau jualan bapak habis, bapak akan belikan dinda tas baru".

Itu lah alasan ku setiap dinda bertanya. Tapi aku bangga pada anakku satu-satunya itumeski umurnya yg baru menginjak usia 10 tahun, dia telah pintar memahami ekonomi kami, orangtuanya. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari saja aku sulit meski sudah berjualan dari pagi hingga senja merah tampak.

Inilah satu-satunya pekerjaan yang aku miliki. Menjadi penjual es kado. Es-es ini ku ambil dari agen es didekat rumahku. Pekerjaan yang cukup membuat dinda anakku senang. Tak jarang aku membawakan beberapa potong es untuknya. Es dengan rasa durian kesukaan dinda.

Mungkin juga aku lah satu-satunya orang yang akan tersenyum ketika orang-orang mencerca karena kepanasan. Tidak lain dan tidak bukan, karena hari yang cerah secara tidak langsung banyak yg akan membeli jualanku.

Tapi tidak kali ini, langkah ku terhenti dipangkalan ojek tempat aku berdiri sekarang. Belum ada 1 potong es pun terjual hari ini, apa yang harus ku katakan pada istri dan anak ku. Apa lauk sepotong ikan asin lagi yang bisa ku berikan pada mereka? Ah tidak.

Aku akan menunggu hingga hujan reda. Dan melanjutkan menjajakan es ini.


12.37
1 jam, 2 jam ,3 jam dan Alhamdulillah hujan mulai reda. Tujuan utama ku adalah komplek sebelah. Tak jarang anak-anak elit itu menyukai es jualan ku. Dan tak jarang juga mereka memborong es-es ku ini. Aku mengakui meski es ini jajanan kampung, tapi si pemilik agen es begitu menjaga kesehatan dan rasa.


12.53
Aku telah sampai ditaman komplek. Rumput masih tampak basah, tapi beberapa anak laki-laki ku lihat baru saja memulai bermain bola. Hentak kan lonceng es ditanganku semoga cukup menyadarkan anak-anak itu. Namun tak ada respon.


13.10
Aku berjalan lagi menyusuri aspal-aspal mulus ini, tidak seperti setapak ke rumah ku yg berlubang dan sempit.

Aku bersyukur untuk kesekian kalinya. Dugaan ku benar, baru beberapa rumah ku lewati, es ku sudah diborong seorang ibu yg akan mengadakan acara ulang tahun anaknya.

Apapun tujuan ibu itu jujur aku tak peduli. Aku ingin segera pulang dan mengajak dinda membeli tas barunya. Senyum khas anak ku sudah terbayang diotak ini. Senyum dengan lesung pipi kecil. Dia akan mendapatkan tas barunya. Oh semua letih ku hari ini sudah hilang memikirkan begitu senangnya dinda.


13.48
Gerobak yg sudah kosong ini ku ajak berlari menyusuri setapak becek dan berlubang menuju rumah ku. Ada yg aneh. Didepan rumah ku penuh kerumunan orang. Ada apa? Dinda? Istriku?
Aku menerobos kerumunan itu. Senyum bahagiaku hilang seketika menatap sisa-sisa puing rumahku yang habis dilahap api. Rumah, istri dan juga dinda, anak ku.

'Jika saja jualan ku lebih cepat laku dan ku cepat pulang'.

Jambi, 2 April 2011
18.00 WIB

Tidak ada komentar: