Sabtu, 09 April 2011

Sependar Pelangi dalam Hujan

Dua gelas Teh hangat dan piring yang tadi berisi tahu goreng, kini hampir tandas olehku dan Lastri. Hujan tadi menyisakan genangan-genangan air dimana-mana. Semilir angin terus menyapa rambutku yg kubiarkan terurai.

Aku melirik seorang wanita dengan setelan rapi yg baru saja memasuki warung Pak Anang. Berhenti dikursi yg tak jauh dari aku dan Lastri duduk.

Aku dan Lastri sudah cukup lama disini setelah berjalan dari minimarket tempatku bekerja. Ini hari terakhirku bekerja disana.

"Ni, kamu bilang kamu ngeliat dia disini kan?" ucapan Lastri membuat aku berpaling dari wanita tadi.
"Iya Tri, tepat dari kursi yg kamu duduki itu" jawabku.
"Gak kamu kejar?"
"Kejar? Buat apa? Dia tidak menginginkan ku. Begitu juga aku yg tidak menginginkannya."
"Tapi aku melihat sesuatu yg beda dimatamu, setiap kamu cerita tentangnya."
"hmm...itu cuma perasaanmu saja Las" tukasku.
"Kamu jangan membohongi perasaanmu sendiri Ni, matamu tidak dapat berbohong" serang Lastri.
"Sudahlah Las, aku mengajakmu kesini bukan untuk membahas dia. Tapi untuk perayaan diterimanya lamaran pekerjaanku dan acara perpisahan kita. Lagi pula tak ada lagi yg harus ku harapkan darinya. Aku hanya Hujan yg hilang setelah pelangi muncul." jelasku panjang lebar.

"Maafin aku Ni, aku tidak bermaksud membuatmu kembali mengingat kenangan burukmu" ucap Lastri yg terdengar merasa bersalah.
"Aku nggak papa Las", "Aku benar-benar nggak papa" ulangku lagi meyakinkan Lastri.
Kali ini Lastri hanya mengangguk seraya mengangkat cangkir teh dan menyesap tehnya yg kurasa sudah dingin.

"Aku percaya kalau jodoh itu sudah diatur yg di Atas, mungkin itu cara Tuhan untuk mengatakan dia bukan yg terbaik untukku Las. Toh bukannya sebagian banyak orang mengatakan kalau patah hati itu salah satu cara menjadikan seseorang dewasa??" jelasku lagi.
"Hahaha, itu hanya mitos dalam cinta Ni, toh buktinya masih banyak orang yg patah hati dan patah hati lagi karena hal yg sama. Kalau mereka dewasa, mana mungkin akan melakukan kesalahan yg sama Ni?" ungkap Lastri tak kalah panjang lebar.
"hahaha... Kamu ada benarnya juga Las." aku mencoba tertawa, dan mengangkat cangkir tehku. Tenggorokanku mendadak tercekat karena celotohen yg panjang lebar dan tak jelas juntrungannya itu.

***
Kadang aku berpikir bahwa aku tidaklah seberuntung mereka yg bisa mempertahankan cinta mereka bertahun-tahun dan berakhir indah. Tapi aku cukup mensyukuri cinta yg pernah Allah titipkan untukku. Pelajaran yg tak sesingkat kisahnya. Aku begitu mencintai kisah sederhana ini.
***

"Ni, aku boleh tanya sesuatu?" Lastri kembali membuka pembicaraan.
"Apa?" tak kalah serius dengan wajahnya saat ini.
"Bagaimana kalau dia tiba-tiba menemuimu dan memintamu kembali besamanya"
"Aku akan tetap jadi hujan yg hilang ketika pelangi muncul. Aku sesederhana hujan. Dan wanita itu semenawan pelangi. Tak mungkin dia meninggalkan pelangi hanya untuk hujan." ucapku meyakinkan Lastri.

"Apa kamu masih mencintainya?"
Oh, pertanyaan yg tak aku inginkan.
"Tidak" jawabku mantap.
"Sisa cintaku lenyap ketika pelangi muncul. Hujan juga telah menghapus jejaknya dihatiku."
jawabku lebih mantap.

"Apa sesederhana itukah cintamu Ni."
"Loh, bukannya cinta itu memang sederhana? Hanya kadang kita sendiri yg membuat cinta itu ribet. Bergelayutan dihati dan otak.","Kita perempuan sudah saatnya berpikir realistis, CINTA itu SEDERHANA, tidak RIBET."
"Hahahaha karna kamu sederhana dan tidak suka yg ribet kan? Apa kau akan terus menjadi orang yg sesimple inikah?"

aku hanya mengangkat kedua bahuku dan kembali menyesap teh dari cangkir didepanku.

Dari meja tempatku dan Lastri duduk, aku dapat mendengar lagu berhenti berharap milik marcel dari mulut pengamen yg memang selalu ada diwarung pak Anang.

kini ku akui
hatiku tak bisa s'lalu miliki dirimu
pernah ku paksakan walau tak sejalan
meski ku tau kusalah
Dan ku coba melupakanmu
karna ku tau kau bukan milikku


Aku meneguk teh terakhir dari cangkir ditanganku. Seiring dengan dimainkan reff terakhir yg diiringi gitarnya - pengamen-

dan ku berhenti berharap
akan cintamu yg dulu ada dihati
dan ku coba tuk bertahan
walau berat
kini ku berhenti berharap



*previous (Dia Pelangi & Aku Hujan)

Tidak ada komentar: