Minggu, 10 April 2011

Aku di penghujung Musik Hujan-Mu

Hujan kali ini hujan yg berbeda. Tak hanya sejuk ditubuhku. Tetapi juga sejuk dihati ini. Membuat aku merindukan masa-masa itu. Aku kembali kekota ini dan berjalan menyusuri setapak yang 3 tahun lalu aku lewati.

Seperti saat itu, tirai hujan senantiasa menemani hariku. Teh hangat Pak Anang yg selalu ku sesap dikala hujan, semakin membuat ku merindukan masa-masa itu. Teh hangat tidak terlalu manis dengan sesendok gula yg begitu Pak Anang hapal.
Warung penuh kehangatan, meskipun saat itu musik hujan yg dingin menggema.

Semua tidak banyak berubah sejak aku meninggalkan kota ini. Yah, kota yg terpaksa kutinggalkan demi menggali ilmu sastra ku di negeri orang. Alhasil, memang benar kata-kata ku saat itu. Awal coretan yang berlatar belakang keisengan kini berakhir dengan UANG.

Dari tempat ku berdiri sekarang aku dapat melihat minimarket tempat aku bekerja dulu. Tempat dimana aku dan Lastri menghabiskan paruh waktu kami. Aku memasuki minimarket. Tampak manager minimarket dengan seragamnya, Lastri. Yaa, dia diangkat sebagai manager disini menggantikan bos ku dulu yg tak bisa hidup tanpa gossip. Lastri terperangah melihatku.
"Unii..Itu kamu?" dia langsung menghambur ke pelukanku.
"Kenapa gak nelpon aku sih, aku kan bisa jemput kamu."
"Loh kalau gitu namanya bukan surprise dong." elak ku.
"kamu!! tetap gak pernah berubah!"
"Loh aku kan UNI, kenapa harus berubah?"
"Ya ya ya, masih Uni yg realistis kan? Menganggap CINTA itu SEDERHANA tidak RIBET!!" ejek Lastri." ya toh?"
"hahaha." aku tertawa mendengar sindiran Lastri.
"Ikut aku yuuk!"
"Kemana?"
"Kewarung Pak Anang." jawabku sambil tersenyum.
"BerNOSTALGILA maksudmu? Hahaha." tawanya lepas seketika. "Tapi gak bisa sekarang Ni, kamu tau kan peraturan disini? Tapi aku janji akan menemuimu 1 jam lagi." pujuk Lastri sambil melirik arloji ditangannya.
"Huuh" aku mendengus kecewa.
"Ok, aku tunggu disana. Jam 5 kurang harus sudah disana!" jawabku sedikit memaksa.
"Iya aku janji!"
Ku peluk tubuh yg kurasa semakin gemuk. Pelukan terakhir sebelum aku pergi.

Aku berjalan meninggalkan minimarket, tentu tanpa melupakan kenanganku disana. Genangan air sisa hujan masih tampak jelas. Hujan yg kini berganti gerimis romantis seperti kataku dulu.

Langkahku kembali terhenti. Tepat dipekarangan mesjid yg dulu setiap harinya aku lalui. Tenang dan merindukan. Tempat dulu aku pernah berteduh. Tempat aku temukan sebentuk hati disajadah merah. Tempat ini masih begitu hangat, sehangat sambutan-Mu untukku. Dan sama seperti saat itu. Tak ada orang lain. Hanya kita berdua. Aku dan -Mu Ya Allah. Tak ada musik lain selain musik hujan-Mu dan lagu-Mu dihatiku. Aku akan mengetuk pintu ke tiga-Mu sebelum Aku meninggalkan rumah-Mu.

***
Jam ditanganku menunjukkan pukul setengah lima lewat. Aku bergegas untuk sampai ke warung pak Anang. Hujan sebentar lagi mungkin akan benar-benar berakhir. Aku tidak ingin melewatkan hujan tanpa teh hangat. Aku berlari-lari kecil melewati genangan-genangan air.
Payung hijau yg dari tadi kupakai ikut menari-nari dalam tirai hujan. Seakan berlomba dengan ojek payung yg berlarian mengejar pelanggan mereka.

Aku tinggal menyeberang trotoar ini untuk sampai kewarung pak Anang yg sudah didepan mata. Tak sabar rasanya merasakan kehangatan warung itu lagi. Teh hangat dan hujan, perpaduan yg kusuka.

Beberapa langkah lagi aku akan sampai kewarung pak Anang. Iya beberapa langkah lagi.

Aku mendengar seseorang meneriakan namaku. Aku berhenti dan menoleh kebelakang. Dia, dia yg meninggalkan aku si hujan karena si pelangi. Dia mengucapkan sesuatu. Tapi terdengar samar.
"......"
"MINGGIIIIIIR!!!"

Seketika tubuhku ditubruk benda keras, terpelanting, dan terhempas.

Aku menikmati hujan terakhir ku. Tak ada musik lain selain musik hujan-Mu dan lagu-Mu dihatiku. Aku hujan yg hilang ketika pelangi muncul. Dalam tirai hujan, aku menyimpan banyak hal.

*previous
(Sependar Pelangi dalam Hujan)
(Dia Pelangi & Aku Hujan)
(Seperti Hujan Saat itu)
(Sebentuk Hati di Sajadah Merah)
(Ojek Payung Hati dalam Tirai Hujan)


# ini part ke-6 dari buku yg dari tadi saya baca. Cerita seorang Uni yg begitu menyukai Hujan. Uni yang mati dipenghujung hujan ketika pelangi mulai terpendar.

Sampul buku yg berjudul "Coretan diatas kertas"
dihiasi puisi singkatnya

"kubuka catatan harianku
sekedar flash back belaka
terus kubolak balik lembar demi lembar buku ini
sambil sesekali ku tersenyum kecil membaca kesedihanku yg sekarang terkesan lucu
terus kelembar berikutnya
ada rasa sedih ketika kubaca kebahagiaan saat itu
apa isi buku ini?"

kini saya membaca kebagian akhir puisi disampul buku.

"dibuku ini kutulis tentang mereka
dibuku ini kutulis nama-nama itu
dibuku ini kutulis harapanku
dibuku ini kutulis cintaku
dibuku ini kutulis hidupku
mataku berhenti dibagian akhir buku ini
tak ada satu tintapun tergores disitu
aku sengaja mengosongkan lembar akhir ini
untuk menulis bagian hidupku yg mungkin saja terlupakan olehku."

cici wuni

Tidak ada komentar: