Rabu, 13 April 2011

DOSEN KU GEBETAN KU

Add caption
Kertas, laptop dan seabrek tumpukan konsep majalah diatas meja kerjaku sudah seminggu ku biarkan berantakan. Aku Mabel, sudah hampir 2 tahun aku bekerja sebagai salah satu pengisi rubrik di majalah remaja ditempat kerjaku. Seperti hari ini, semua orang disini akan selalu sibuk jika sudah mendekati deadline. Termasuk aku.

"Bel!! Rubrik cerpen Lo yg ngisi kan??" Alfa salah satu tim kerjaku mendekat.
"Iya gue Fa!" aku masih tetap menatap laptop didepanku.
"Trus uda selesai nggak? "Gue belom dapet cerpen yg pas." jawabku lemas.
"Loh tema kita bulan ini kan uda jelas, Tahun ajaran baru."
"Iya gue juga tau, tapi gada kiriman cerpen dari pembaca yg bertemakan Tahun Ajaran baru Fa." ungkapku panjang lebar.
"Kenapa gak lo aja yg buat?"
"Gue ??"jawabku bingung.
"Iya, percuma lo bisa nulis tapi gak nulis."
"Lo nyindir gue ?!" tanyaku sengit.
"hahaha,, uda ya pokoknya yg gue tau lusa tuh cerpen uda ada dimeja gue."
"Hah? Lusa, lu pikir buat cerpen kaya masak mie instan apa?"aku menjawab lebih sengit lagi. Tapi Alfa sudah berlalu pergi meninggalkan mejaku.

***

Untung saja hari mendung, jadi aku bisa mencari objek cerpenku. Sekarang aku berada diwarung bakso pinggir jalan didepan salah satu universitas yg tak jauh dari kantor tempat kerjaku.

Mencari mangsa dan berharap ada yg mau berbagi pengalaman ditahun ajaran baru yg pernah mereka lalui.

"Bang, baksonya satu." seorang wanita yg baru datang memesan bakso.
Dia duduk tepat didepanku. Tersenyum, yg ku balas senyuman dengan kunyahan penuh bakso dimulutku. Mungkin aku terlihat lucu, tapi ya sudahlah.

"Wartawan ya mbak?"
"Hah? Saya? Jawabku heran, menoleh kekanan kekiri mencari seseorang yg menjadi lawan bicara wanita itu.
"M A B E L." dia mulai mengeja satu persatu hurup yg tertulis dikartu pengenal yg aku jepitkan di kantong polo shirt ku.
"Oh, bukan. Saya kerja di majalah dekat sini."
"Penulis?"
"Hah? Hmmm... Sudah lah gak penting.", "Nama kamu siapa?" aku balik bertanya.
"Tata mbak?"
"Ok, Tata. Panggil gue Mabel aja, gak
usah mbak. Toh umur kita kayanya juga gak terpaut jauh kan? Semester berapa?"
"Ok, Mabel. Semester 7. Kenapa?"

"Nah!!" Tata terlihat kaget dengan responku barusan. "Lo punya waktu gak?" tanyaku.
"Kalo waktu sih gue selalu ada, kenapa?"
"Bantu gue nulis cerpen ya?"
"Hah gue? Gue gak bisa nulis."
"Hmm, maksud guee..." aku sedikit bingung menjelaskannya.
"Gini maksud gue, lo yg cerita, gue yg nulis."
"....." tak ada jawaban dari wanita yg baru ku kenal itu.
"Gue punya kerjaan buat cerpen dengan tema tahun ajaran baru, nah gue cuma minta lo ceritain pengalaman lo ditahun ajaran baru aja Ta." aku meyakinkan Tata.
"Kayanya gak ada yg menarik ditahun ajaran baru gue."
"Hmm.. Apa aja boleh deh." aku tetap memaksa.
Bakso didepanku sudah aku tinggalkan dari tadi.

"Makasih bang." Tata mengambil semangkok bakso yg baru jadi dari tangan si empunya bakso.

"Gue gak tau apa cerita gue nanti menarik ato gak, gue bakal cerita. Tapi gue makan ni bakso dulu ya?" ungkap tata seraya menyuap sepotong bakso kemulutnya.

'gak papa Bel lo nunggu lama, ini demi cerpen & masa depan lo dimajalah itu.' ucapku dalam hati.

Aku terus menunggu dan berharap suapan terakhirnya. Teh botol ku sudah nyaris habis. Dan.........yeah. Akhirnya sendokan terakhir itu didepan mata.

"Udah ni bel, jadi gak gue ceritanya?"
"Ya jadi dong ta.", 'Gila aja gue uda nunggu kaya gini malah gak jadi' ucapku dalam hati.
"Ntar, pas gue tekan tombol ini lo langsung cerita aja ya." intruksiku pada tata sambil menunjuk tombol di tape recorder yg sudah aku siapkan.
"Ok!" jawabnya mantap.
Klik, bunyi tombol yg barusan ku tekan. Tata memulai ceritanya. Entah cerita apa yg akan diceritakannya, tapi aku bertekad apapun itu akan kujadikan cerpen di edisi majalah bulan depan.

*
Sebenarnya aku gak tau ini cerita sedih atau malah lucu. Yg pasti ini terjadi saat aku duduk di semester 4. Iya awal semester 4 dimana ada mata kuliah baru juga dengan dosen-dosen baru. Singkat cerita aku bertemu dengannya, salah satu dosen muda yg mengajar mata kuliah komunikasi internasional. Yah, awal keisengan aku dan teman-temanku dimulai. Aku mendekati dosen muda yg berumur tak terpaut jauh dariku itu. Namanya Kiki, kami lebih suka memanggilnya mas Kiki. Bisa dibilang DOSENKU GEBETANKU. Hahaha,,terlalu konyol memang. Tapi memang itulah yg terjadi. Banyak yg bilang tak ada yg spesial dari dirinya. Tapi menurutku mereka salah, bagaimana mungkin mereka menilai seseorang dari kelebihannya saja. Aku lebih suka menilainya dari keserhanaan.

Selama beberapa bulan aku menjadi semakin dekat dengannya, sesekali makan bersama dikantin kampus, atau membahas segala hal diperpustakaan.
Bukan salahku juga kalau aku menjadi tertarik karna keramahan dan kebaikannya untukku atau malah kesemua orang.

Semua keisenganku ternyata menjadi malapetaka buat hatiku sendiri. Siapa yg menduga semua ini terjadi. Kalau kata pepatah orang jawa itu. WITING TRERNO JALARAN SOKO KULINO. Aku mengalami itu teman. Namun semua tak berakhir dengan baik.

*
Tata menyilangkan tangannya berbentuk huruf x sebagai isyarat cerinya selesai.

“Jadi akhirnya lo sama dia gimana sih?” aku penasaran dengan ceritanya tadi.
“Hmmm.. ya Cuma sampai disitu. Kayanya dia Cuma nganggep gue adiknya doang, salah gue sendiri sih sebenarnya yang berfikir perasaan dia kegue itu sama kaya gue ke dia.” Tata mengungkapkan panjang lebar di akhiri tegukan the botol dihadapannya.
“Kok kayak sich? Jadi lo belum ngungkapin perasaan lo ke dia?” desakku lagi.
“Hahahahaha, itu dia Bel. Pas gue mau ngungkapin perasaan gue, gue uda buat janji gitu sama dia. Kebetulan banget dia juga mau ngasih gue sesuatu gitu. Lo yau gak dia ngasih apaan?”
“Apa?” tanyaku semakin penasaran.
“Tunggu dulu gue certain. Saat itu tepat dikursi kita duduki ini. Dia duduk ditempat lo duduk, dan gue duduk diposisi gue saat ini.”
“Trus trus?” aku semakin mendesak Tata.
“Gue yang awalnya mau ngungkapin perasaan gue ke dia, pupus saat dia nyodorin sebuah surat kegua.” Cerita Tata sambil mempraktekkan surat yang disodorkan saat itu.
“Surat? Surat cinta ya?”
“Hahahahahahahaha.” Tata tertawa lepas, membuat dia menjadi pusat perhatian si empunya warung bakso. Dan aku masih bingung dengan maksud tawanya itu.
“SURAT UNDANGAN PERNIKAHAN” jawabnya sedikit berbisik.
Dan kali ini aku yang menjadi pusat perhatian karena ketawaku.
“Hahahahahha, jadi lo di tinggal kawin ya?” aku terus tertawa tanpa sadar kalau Tata adalah orang yang baru kukenal.
“Sialan lo Bel!!” Tata mengupatku.
“Gue udah dapet judul yang bagus nih buat cerpen gue.”
“Apa? Jangan macem-macem lo Bel!!” ancam Tata.
“CINTAKU DITINGGAL KAWIN.”
“Hahahahahahahahahaha.” Aku dan Tata tertawa berbarengan saat itu juga.

***
“Bel, gimana?” cerpennya uad jadi belom? Alfa mendekati mejaku.
“Masih dalam Proses, niih.”aku menunjukan tulisan dilayar laptop kepada Alfa.
“Judulnya Apa?”
“DOSEN KU GEBETAN KU.”, “Gimana menurut lo FA?”
“Hmm.. menarik. Hebat lo Bel. Ok gue tunggu besok dimeja gue.” Alfa menepuk pundakku seraya berjalan kembali kemejanya.
“OK.” Jawabku singkat, tetap tak berpaling dari ketikan di laptopku. Entah kenapa aku tertawa kecil ketika mengingat cerita Tata kemarin. DOSEN KU GEBETAN KU.

(jambi, 13 April 2011 - 12.00 WIB)
Cici Wuni

Tidak ada komentar: