“ Toples ini buat kamu”. kamu menyodorkan toples kaca bening berbentuk bintang kehadapanku.
“Hmmm.. buat apa?” jawabku bingung dengan pemberianmu kali ini.
“Karena kamu suka pelangi, jadi aku isi toples ini penuh dengan pelangi. Biar setiap hari kamu bisa melihatnya”
Aku masih bingung dan terus melihat kedalam toples kosong yang sudah berada ditanganku.
“Tapi aku nggak lihat ada pelangi didalamnya”
“Sini toplesnya, kalau dibeginikan gimana? Coba kamu lihat sekarang kalau bagini keliatankan pelanginya?”. Kamu mengajarkan aku cara melihat pelangi dari toples pemberianmu ini.
“Hmm.. iya tapi bukankah biasanya kita bisa melihat pelangi bersama-sama”
“aku akan kuliah di kota lain, dan aku rasa ini semua terlalu sulit untuk kita” katamu kaku.
***
“Kamu mikirin dia lagi Sil?”
“Hmm,, oh nggak kok, aku cuma lagi ingin melihat pelangi saja”. Aku terus mengarahkan toples kaca kosong ditanganku ke sinar matahari dari balkon kantor.
“Apa melihat pelangi itu harus setiap hari ya Sil?” Aya kembali bersuara.
“bagiku pelangi itu seperti kebiasaan yang sulit untuk dirubah Ay”.
“Sampai kapan?”
“Apanya yang sampai kapan sich Ay?” aku berbicara tanpa melihat wajah sahabatku itu dan masih sibuk mencari posisi yang tepat hingga terlihat semburat warna-warna dari dinding toples berbentuk bintang ini.
Aya mendengus dan berlalu meninggalkan aku sendirian di balkon kantor. Aku Sila dan yang tadi itu Aya teman sekantorku sekaligus sahabat yang aku kenal di stasiun Balapan di awal aku menginjakkan kakiku di Yogyakarta ini 2 tahun lalu. Aya saat itu kebetulan berada di stasiun balapan karena sedang hunting-hunting Foto keperluan tulisannya dimajalah. Sedangkan aku baru turun kereta datang dari semarang ke Yogyakarta. Aku yang hampir jatuh saat berdesak-desakkan turun dari kereta nyaris terjatuh, untung saja badan gembul Aya cukup menahanku. Saat itu jelas masih ku ingat wajah kagetnya yang sedang sibuk memotret dipintu keluar kereta tiba-tiba saja aku terdorong kehadapannya.
***
“Maaf mbak” Cuma kata itu yang kuucapkan, karena masih kesal terdorong dan nyaris jatuh.
“Iya ora opo-opo mbak, sini saya bantuin mbaknya”. “Dari mana mau kemana mbak?”
“Dari semarang mauu…hmm.. aku juga bingung mau kemana pastinya mbak.”
“Punya keluarga dijogja mbak?”
Aku menggeleng pasti.
“Lah, piye toh mbak. Namaku Cahaya tapi orang-orang lebih sering panggil aku Aya mbak”
“Aku Sila, sebenarnya sich aku ke jogja mau kerja mbak Aya. Aku ngelamar pekerjaan disalah satu majalah di jogja ini mbak. sekarang aku kejogja karena mau tes wawancaranya”.
“Mbak Sila panggil aku Aya aja mbak, ndak usah pake mbak. kalu boleh tau majalah apa ya mbak?”
Seperti itulah pertemuanku dengan Aya yang kebetulan sekali kami bekerja di majalah yang sama. Tes wawancaraku berjalan dengan lancar dan aku langsung diterima dibagian redaksi. Sejak saat itu kami menjadi dekat. Dia pun tidak segan membantuku mencari tempat kostan, dari jalan kaliurang UGM hingga jalan Ringroad yang memutari kota Yogya dekat UPN aku dan Aya datangi. Karena biasanya disekitaran kampus seperti ini tentu kost-kostan banyak ditemukan. Aya yang kelahiran jogja tentu sangat hapal daerah sekitar sini, apalagi daerah sekitar UGM tempat dia dulu menyelesaikan S1 sastranya.
Pencarian tempat tinggalku saat itu aku anggap sebagai hiburan sesaat dengan guide gratis sebelum hari-hariku dipenuhi dengan rutinitas kantor baruku. Hingga akhirnya aku menemukan kost-kostan dengan harga miring yang pas di kantong. Satu ruangan yang dilengkapi tempat tidur, lemari, dan meja kecil, tentunya dengan kamar mandi yang super kecil juga. Disinilah aku memulai di Yogyakarta.
***
Jam makan siang sebentar lagi akan berakhir. Tapi aku masih enggan untuk beranjak dari sini. Panas terik tak segan-segannya menembus jilbab hijau tosca yang aku pakai hari ini.
“Sil, kamu dipanggil pak Dude tuh”. Kepala Aya menyembul dari pintu tangga bawah.
“Aku di panggil pak Dude? Ada apa ya Ay?”
“Udah, temui saja dulu. Lah aku ya mana tau Sil”
Aku mengikuti Aya turun, sebungkus chitato masih erat dipegangnya sambil sesekali mengunyah satupersatu isinya. Nafasnya terdengar terengah-engah setelah menuruni tangga dari balkon. Dia berbelok keruang redaksi, sedangkan aku terus menuruni tangga ke lantai bawah menuju ruang Pak Dude di sudut sebelah kanan.
***
Matahari hampir menenggelamkan dirinya. Dijendela masih tersisa air yang menempel karena hujan yang tiba-tiba turun ketika Ba’da Ashar tadi. Kini hanya secercah langit merah kegelapan yang tersisa, terlihat jelas dari lantai tempat dimana aku masih berkutat menulis beberapa tulisan yang akan dimuat untuk akhir bulan ini. Sesuai perintah Pak Dude tadi, semuanya harus selesai diminggu ketiga bulan ini sebelum diserahkan kepadanya. Aya yang dari tadi sibuk didepan laptopnya kini terlihat lebih gelisah. Sedangkan beberapa senior-senior yang lain masih terus berkonsentrasi dengan pekerjaan mereka.
“Sil, Sila” Aya setengah berbisik.
“hmm..”
“Kamu lapar ndak?”
“Iya laper, kenapa?”
“Turun dulu yuuk, kita makan bakso mang Kasep”
Aku melirik arlogi ditanganku yang menunjukkan pukul 17.42.
“hmm.. sebentar lagi kan azan magrib Ay, gimana kalau kita sholat dulu baru turun makan baksonya ya”. Jawabku meyakinkan Aya sahabatku.
Wanita berbadan gembul itu terlihat tidak terlalu kecewa dengan alasanku menunda makan kami.
***
Kami baru saja keluar dari mushola kantor, kembali ke ruang kerja. Bermodalkan dompet serta kamera SLR sebagai inventaris dari kantor. Yah, mana tahu saja ada objek yang bisa ku dokumentasikan. Dari pintu kantor terlihat hujan tadi menyisakan gerimis yang lebih suka ku katakan ini adalah gerimis romantis. Aya berjalan didepan mendahului ku dengan payung biru kesayangannya. Tentu saja kami tidak bisa berbagi payung jika tidak ingin kebasahan sebelum sampai diwarung mang Kasep diujung jalan.
Benar saja sepertinya hujan menambah selera makan Aya, dihadapnya kini sudah ketiga kalinya ia meminta mang Kasep mengisi ulang bakso lengkap dengan sambal extra banyak.
Warung kecil ini hanya dilengkapi 2 meja panjang yang masing-masing diatasnya dilengkapi sekeranjang kerupuk dengan bermacam-macam jenis kerupuk. Aku menghisap sedotan terakhir teh botol sosro yang aku pesan tadi. Sedangkan Aya masih menikmati baksonya dengan lahap.
“Sil, kerjaanmu sudah selesai ndak.” Suaranya lebih persis seperti orang bergumam akibat sebuah bakso yang dikunyahnya.
“Ada beberapa lagi yang belum selesai,” aku berhenti sejenak mendengar lagu yang dibawakan 2 pengamen tetap diwarung mang Kasep yang tadi direquest seorang wanita disudut meja.
i heard, that your settled down
that you, found a girl and your married now
i heard that your dreams came true.
guess she gave you things, i didn't give to you
“hmm,, kolom puisi pembaca belum terisi Ay.” Aku melanjutkan.
“Kamu sudah cek e-mail belum, mana tahu ada kiriman baru dari pembaca.”
“hmm…” aku kembali mendengarkan penggalan lagu Someone Like you milik adele yang cukup enak dinyanyikan pengamen tadi. Salah satu lagu yang aku suka. Sesekali memotret mereka dengan kamera yang tadi ku bawa.
nevermind, i'll find someone like you
i wish nothing but the best, for you too
don't forget me, i beg, i remember you said
"sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead
***
Aku sudah kembali kekantor, dan mulai berkutat lagi didepan computer. Sedangkan Aya yang mejanya tepat didepanku tak kenyang-kenyangnya menikmati pisang goreng yang tadi sempat-sempatnya ia beli sepulang dari warung Mang Kasep. Sesekali tangannya menggeser mouse dan mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu.
Satu-persatu email kiriman pembaca sudah aku buka. Sebagian besar berisi permintaan ini dan itu dari pembaca. Beberapa lagi puisi-puisi. Mataku berhenti disalah satu kiriman dengan nama subjek yang dulu tak asing bagiku. Ah, mungkin nama yang sama. Didunia seluas ini mana mungkin tak ada orang yang bernama sama. Sekian detik aku ragu membuka email itu. Email berisi puisi. Puisi yang membuat aku terkesan. Makna yang aku mengerti. Tapi tak cukup aku pahami.
Pelangi pernah menyatukan cinta
Sebongkah pelangi kutitipkan untuknya
Sekejap tak ada pelangi diantara cinta
Terhalang hujan yang penuh asa
Sekian menit aku mengaguminya
Berharap hujan segera sirna
Sekian menit aku mencerca
Menatap pelangi tak kunjung senja
Ingin rasanya aku berlari menembus hujan
aku berperang menantang hujan
Membentak untuk berhenti
Berharap hanya untuk saat ini
Aku hanya terpaku
Terbungkam oleh suara hujan yang menggebu
Hanya menunggu waktu
Berharap ada kata satu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar