Minggu, 24 April 2011

Pacar Pertama

"Aku ragu menceritakan ini ke kamu Bel, terlalu konyol".
"Ceritakan saja Va, aku akan jadi pendengar yang baik". Aku tersenyum meyakinkan Alva.


*
Kapan kalian pertama jatuh cinta?
Kapan pertama kali kalian pacaran?
Wow, kalau menjawab pertanyaan kedua itu, aku menjadi sedikit malu. Banyak orang mungkin akan menertawakan ku. Tapi tak apa, meski mungkin aku kalah dengan anak jaman sekarang yang sudah pacaran sejak smp.

Pacar pertama. Setiap mendengar dua kata itu, aku yakin kalian akan berpikir mundur ke masa pertama kali kalian pacaran. Menyenangkan bukan, membayangkan bagaimana polosnya wajah kalian dengan bumbu malu-malu kucing. Hahaha,, begitu juga aku. Tapi sayang pacaran buat kali pertama ku tidak berjalan mulus. Yah.

Sampai saat ini aku pun merasa tolol memberikan alasan konyol itu saat mengatakan PUTUS. Alasan yg sebenarnya kubuat-buat. Alasan agar dia membenci ku.

Yang pasti alasan ku itu mulus membuat ku putus dengannya.

Ah, seharusnya saat itu aku lebih jujur. Aku sayang dia. Atau bisa dibilang masa dimana sayang ku untuknya semakin tumbuh.
Tapi aku melupakan semua rasa itu. Ketika aku tau ada orang lain yang menyayanginya lebih dari aku, bahkan sebelum aku bersamanya. Orang yg sangat ku kenal.


Seketika itu juga ada rasa takut untuk menyakiti dia dan dia. Bagaikan makan buah simalakama, aku bimbang. Rasa bersalah karena merebut orang yg telah lama dia sayangi.

Mungkin kalau aku berpisah dengan dia, mereka bisa bersama.

Ya, itu lah pemikiran dangkal ku saat itu. Membuat aku semakin kuat mengakhiri hubungan aku dan dia. Pemikiran yg menimbulan alasan putus terkonyol yg pernah ku lakukan.

Aku ingat sore itu, jantung ku begitu cepat berdetak, ada dia dihadapanku dengan wajah bingungnya.

"Katanya ada yg mau kamu katakan?" terdengar suaranya yg terkesan sangat lelah.
"Hmm,,"
"Apa?"
"Aku bingung harus mulai dari mana."
"Mulailah dari mana pun yang kamu mau."
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu".
"Maaf buat apa?".
"Makanya dengerin aku dulu". aku merengut kesal.
"Hehehe, iya iya maaf". Tawa kecilnya cukup membuat suasana saat itu mencair.
"Hmm, aku rasa hubungan kita sampai disini aja ya, kita gak cocok, karna aku...."
"Hah?", dia begitu terkejut.
"Salah aku apa? Karna apa??"
"Kamu gak pernah salah, yg salah itu aku".
"Tapi kenapa?? Karna orang lain yg kamu suka?".

Aku berjalan meninggalkannya. Aku ingin sekali berteriak mengatakan "BUKAN KARENA INI DAN ITU, INI HANYA ALASAN KU SAJA". Tapi itu tak mungkin, rencana ku tak mungkin kugagalkan sendiri.

Ini semua karna dia, dia yg menyayangimu lebih dari aku. Aku tak ingin berkata jujur, karna aku takut kau tidak membiarkanku pergi. Aku takut saat itu aku menangis dihadapanmu. Aku pecundang, dan terlalu pengecut untuk bertahan. Pengecut untuk mengaku aku menangis, aku sakit, begitu sakit.

Ketika terpaksa merelakan orang yg kita sayangi untuk orang lain. Dan aku yakin suatu saat kamu akan mengerti aku.
*

"jadi ceritanya lo berkorban?"
"hmm, entah la Bel, aku tak tau apa itu bisa dikatakan pengorbanan".
"Lo putus, apa kemudian mereka bersama?"
"Tidak".
"Lalu?"
"Aku dia dan dia menjalani hidup kami masing-masing".
"Tolol, pengorbanan yg sia-sia. Apa sampai saat ini dia belum tau alasanmu sebenarnya?"
"Entahlah, aku tak pernah memberitahunya. Tak ada gunanya juga. Itu hanya masa lalu".
"Masa lalu untuk pedoman masa depan".
"Iya, kamu benar Bel. Banyak hal juga yang saat ini membuat aku mengerti apa itu hakikat cinta sebenarnya".

***
Aku meneguk air mineral didepanku. Alva baru saja mengakhiri cerita pacar pertamanya. Waktu makan siang kami sudah hampir habis. Kantin ini mulai sepi. Kantin kantor adalah tempat makan yang tepat dikala dompet menipis diakhir bulan seperti ini. Aku beranjak pergi sembari mengingat pacar pertama ku^^

jambi, 24 april 2011
23.15 WIB




Tidak ada komentar: