“Pak teh angetnya satu yo”
“Iya neng, sedikit gula seperti biasanya toh?”
“Hehehe, enje pak”
Hmmm… hujan lagi. Aku terpaksa berteduh diwarung pak Anang. Warung kopi langgananku. Hey, jangan salah karena namanya warung kopi lantas yang dijual hanya kopi. Teh hangat kesukaanku tentu juga tersedia disini.
Sejak aku bekerja dimini market yang tak jauh dari warung pak Anang ini, aku sering ssekali mampir. Sekedar duduk melepas penat atau memesan teh hangat dikala hujanseperti saat ini. Tak jarang aku mengobrol juga dengan pak Anang atau istriya bu Yanti.
Aku mengingat orang tuaku dikampung setiap melihat mereka. Teringat peluhnya mereka untuk membiayai hidup dan sekolah aku dan adik-adikku. Untuk itulah aku bekerja paruh waktu. Mengirit setiap hari, menyisihkan untuk kiriman kekampung.
“Neng, ngelamunin opo, pacar ya? Ini tehnya”
“Hhehe, bapak ada-ada saja. Yo ndak la pak. Ora punyo pacar aku pak”
“Yo wes, bapak tinggal dulu yo. Jangan ngelamun lagi”
“Enje pak”
Kesesap teh hangat yang kupesan tadi, terasa hangat ditenggorokan.
“…………..makasih pak” terdengar suara girang seorang anak lelaki yang diberi uang 5 ribuan dari lelaki setengah baya yang baru saja menyewa payungnya.
Memang dari tadi aku sudah memperhatikannya dari warung pak Anang, ia sibuk berlarian mengejar orang-orang yang lalu lalang ditirai hujan, yang sejak tadi mengguyur deras. Membawa sebuah payung, dan rela berbasah-basahan demi uang yang tak sebanding dengan kesehatannya.
“Buuu, payungnya….”
“Berapa?” Tanya ibu itu.
“Biasa bu 3 ribu saja”
“Gak bisa kurang ya?”
“Gak buu, taa………..”
Percakapan mereka beriringan dengan hujan yang semakin deras. Samar-samar dapat kudengar percakapan bocah laki-laki tadi dengan seorang ibu yang tadi juga minum the di warung pak Anang. Dasar ibu-ibu untung rugi begitu diperhitungkan. Entah bagaimana nego mereka tadi, yang ku tau kini mereka telah melewati derasnya hujan.
Aku kembali menyesap teh yang tinggal setengah dan masih terasa hangat. Tapi tetap tak mampu menghangatkan hatiku ketika mengingat sosoknya.
Sejak kapan aku lupa, yang pasti aku sangat menyukai hujan. Apalagi aku mengingat tirai hujan itu telah banyak menemani hari-hariku disini, dikota ini melupakan kenangannya. Aku yakin mereka ojek-ojek payung juga sangat menyukai hujan sama halnya denganku.
“banyak hal yang tersimpan dibalik tirai hujan”
(*dari status fb, banyak yang gak bisa pulang karna hujan lagi mengguyur jambi ^^)
(Jambi, 9 maret 2011 – 22.00 WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar