Rabu, 09 Maret 2011

Hujan, Aku & Dia

“3 ya mas sama…..”
“Iya mbak seperti biasakan? Ditunggu ya”
Dialog kecil itu mengawali ceritaku. Sudah beberapa hari ini kotaku diguyur hujan. Jujur aku menyukai hujan, tidak lain dan tidak bukan karena dengan hujan semakin banyak orang yang akan mampir di kedai pisang gorengku.
Sepiring pisang goreng berbentuk kipas yang baru saja di goreng siap disajikan dengan kopi susu pelengkapnya. Pemesannya telah menunggu sejak tadi.
“Ini mbak pesanannya”
“Makasih ya mas”
“Oalah mbak, inikan tugas saya”
“Hehee, iya mas”
“Saya permisi dulu, silahkan dinikmati pisang gorengnya mbak”
Aku meninggalkan wanita yang akhir-akhir ini menjadi langgananku. Aku ingat pertama kali dia datang bersama lelaki yang kukira itu kekasihnya. Mereka tampak serasi sekali, namun saat itu juga kurasa ada hawa dingin di antara mereka, yah lebih dingin dari hujan kali ini. Akupun sempat mendengar pembicaraan mereka saat mengantarkan sepiring pisang goreng.
“Mas, apa benar yang mbak yu katakan? Kenapa kamu membohongiku mas?” suara wanita itu bergetar menahan tangis.
Tiba-tiba suasana menjadi semakin dingin. Suara wanita yang tadi berbicara semakin kecil dan tak dapat lagi kudengar. Hanya tetesan hujan yang saat itu jatuh kebumi yang dapat kudengar. Aku dapat melihat mereka yang membelakangiku dari tunggu penggorengan. Sementara laki-laki itu hanya duduk diam sesekali menyeruput kopi susu yang kuhidangkan tadi. Tak sedikitpun ku mendengar suara laki-laki itu.
Entah apa yang terjadi dengan mereka. Sampai akhirnya aku mendengar tangisan wanita itu meledak. Dan lelaki itu berdiri meninggalkan kedaiku. Aku terus fokus dengan pisang yang sedang ku goreng dihadapanku. Dan tetap melihat gerak-gerik wanita itu. Cukup lama ia berdiam dengan tangisnya, hingga tak ada lagi pembeli selain dirinya yang masih diam.
Yah.. Sejak kejadian itu hampir setiap hari ia datang kekedai gorenganku ini. Dengan raut muka yang sama ketika ia pulang meninggalkan kedaiku dengan bekas-bekas air mata yang masih tampak saat itu.
Hujan saat ini seperti hujan saat itu, wanita yang duduk disudut kedaiku tenggelam bersama kunyahan pisang goreng dihadapannya. Sesekali terdengar kunyahannya bersama hujan yang mengiringi saat ini. Beraturan dan berirama.
Aku akan tetap membolak-balikan pisang goreng ini dan berharap hujan terus menemani kita.
Hujan, aku dan dia.

(Jambi, 9 maret 2011 - 18.30 WIB)

Tidak ada komentar: