Jumat, 07 Januari 2011

Aku (2)

Terdengar suara-suara dari arah dapur. Entah apa yg sedang mama lakukan disana, yg ku tau sarapan sudah mama sediakan dimeja makan sejak tadi pagi.
"Kaaak , sudah jam berapa,mandi lagi !".
Teriakan mama yg cukup keras dari dapur menyadarkanku. Tak terasa sudah pukul 09.27 tepat diponselku. Aku berdiri dan segera menuju kamar mandi dipojok belakang rumahku. Senandung kecil berulang-ulang aku lantunkan,salah satu rutinitasku dikamar mandi ini. Suara erangan dari cipi dan cipa yg sedang bergurau terdengar sesekali. Yaach, mereka kucing-kucing peliharaanku.

Dengan selembar handuk aku berjalan melewati 3 anak tangga dan belok kekanan pojok rumah untuk sampai dikamar. Tak banyak waktu yg kuhabiskan untuk berpakaian dan berdandan ala kadarnya.

Sosok perempuan dari pantulan cermin kini terlihat lebih dewasa dibandingkan 3 tahun lalu. Tak ada lagi seragam putih abu-abu serta tas sandang dipunggungnya. Aku tersenyum tipis memandangnya. Tapi ada guratan ketakutan dari senyum itu. Entah apa yg ditakutinya.

jalan hidupkah ?atau kematiankah ?aku tak tau.
Aku segera berlalu dari cermin itu.

Kini aku duduk dimeja bundar untuk menyantap nasi goreng buatan mama,dengan dilengkapi segelas teh hangat.
Aku merasakan kebahagian dari sepiring sarapanku pagi ini yg belum tentu dirasakan "mereka",yah mereka korban-korban kejamnya dunia yg berlatarbelakangi uang.
bagi "mereka"
tanpa uang takkan ada makanan
tanpa uang takkan ada pakaian
tanpa uang takkan ada pendidikan
tapi buat "kalian" yg gila hormat!
dengan uang kalian membuang makanan
dengan uang kalian bergaya bak raja dan ratu
dengan uang kalian membeli harga diri

grrrrgrrrrR
Getaran dari handphone menyadarkanku,satu pesan masuk ke ponselku. Cukup senyuman kecil saat aku membacanya. Kuketik beberapa kata dengan diakhiri senyuman lalu kutekan send.

Aku melanjutkan sarapan pagiku. Dan aku kini sadar bahwa pendidikan tidak hanya untuk berpikir dengan otak,tapi juga merasakan dengan hati.

Jambi,07 januari 2011
21.47wib

Tidak ada komentar: