“Dia telah menghilang dari tempat duduknnya”
Hari ini aku akan pulang kekotaku setelah liburan panjang yang aku habiskan dikampung nenek. Butuh waktu sekitar 6 jam perjalanan yang melelahkan untuk sampai ke kota ku. Apalagi aku harus melewati perjalanan ini sendirian dalam bus.
Sekarang waktu menunjukan pukul 5 sore, tepat jadwal keberangkatan bus ini. Aku telah berada dalam bus ini sejak setengah jam yang lalu. Kursi – kursi mulai terisi satu persatu. Pukul 11 malam pasti aku sudah sampai dan bisa tidur nyenyak dikamarku, pikir ku penuh harap.
Bus ini cukup luas dengan deretan kursi 3 disebelah kanan dan kursi 2 disebelah kiri. Aku sengaja mengambil kursi dua dipojok belakang dekat jendela agar dapat melihat pemandangan sepanjang jalan ini. Kursi disebelah ku kebetulan belum ada penghuninya, kuharap seseorang yang bisa kuajak mengobrol dalam perjalanan ini. Tidak seperti keberangkatanku kemarin yang dipenuhi dengkuran seorang lelaki setengah baya disampingku.
Kulihat sopir bus yang duduk di bangku pengemudi sedang merapikan letak topinya, serta kain lap keringat yang melingkar dilehernya tak lupa ia rapikan. Sepertinya bus ini akan segera berangkat, namun kursi disebelahku belum juga di tempati.
“Ah !” aku mendengus kecewa.
Tapi kekecewaanku menghilang ketika seorang gadis kuncir kuda itu berjalan dilorong kecil bus. Aku terus memperhatikan gadis itu, setelah jins hitam dengan kemeja biru yang dikenakannya membuat ia begitu cantik. Dia terus berjalan ke arahku. Ah bodohnya aku, tentu saja karena hanya satu kursi kosong disampingku yang tersisa.
Kini ia berdiri disamping kursi kosong disebelahku. Senyum yang ia lontarkan sungguh manis dengan lesung pipi yang ia miliki. Oh Tuhan begitu cantiknya ciptaan-Mu ini. Aku terus melihatnya, tanpa kusadari kini mata hitam miliknya balik menatapku heran.
“Hey, apa aku boleh duduk disini?” tanyanya.
“si silahkan”, jawabku gugup dengan senyuman yang kurasa kecut bercampur malu.
“Rara”, diuluakan tangannya ke arahku.
Tentu kusebut juga namaku namun tetap gugup. Tangan gadis itu begitu dingin. Apa hanya perasaanku saja?
Dari perkenalan itu banyak percakapan yang kami bicarakan. Aku lama-kelamaan sudah terbiasa dengan adanya Rara. Tak ada lagi rasa gugup tadi. Hanya saja wajah pucatnya membuat aku khawatir apa dia sakit?
Yang kutahu dia juga baru saja liburan dikampung yang bertepatan disebelah kampung nenekku. Cukup banyak hal yang aku dan dia bicarakan.
***
Sirene ambulance diluar membangunkanku. Tanpa sadar ternyata aku tertidur, entah sejak kapan aku tertidur. Diluar begitu ramai, sepertinya ada kecelakaan mobil. Kulihat jam ditanganku menunjukkan pukul 9 malam. Kupalingkan mataku kearah dimana Rara duduk. Dia telah menghilang dari tempat duduknya. Apa mungkin dia keluar bus untuk menghirup udara segar.
Hmm… sebaiknya aku keluar untuk mencarinya.
Cukup sulit aku berjalan untuk mencarinya dikerumunan kendaraan dan orang-orang ini. Tak kunjung aku temukan Rara di mana-mana. Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku. Lampu-lampu sorot dari kendaraan yang mengantri membuat mataku begitu sulit terbuka. Terpaksa kusipitkan mataku untuk terus berjalan.
Kini aku berada didepan kerumunan orang yang berdiri tepat didekat mobil sedan hitam. Oh, jadi mobil yang menabrak pembatas jalan ini yang membuat kepulanganku terlambat. Sekilas kulihat wajah pengemudi mobil itu yang telah tewas, sebelum kuberanjak kembali kebus.
Rara. Ucapku dalam hati. Langkahku seketika terhenti dan segera membalikkan pandangan kearah yang tadi kulihat. Mataku tantu tidak salah melihat meski terasa perih akibat sorot lampu kendaraan. Aku yakin itu Rara. Rara yang selama perjalanan tadi bersamaku.
Rasanya kini kepalaku berkunang-kunang dengan apa yang kulihat. Segera ku senderkan tubuhku kesalah satu mobil. Rasa tidak percayaku sungguh berlawanan dengan apa yang kulihat. Dari seorang bapak disana aku tahu perempuan pemilik mobil itu mati menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. Perempuan itu Rara.
Apa aku bermimpi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar